Friday, February 16, 2018

Statistical Quality Control - TEKNIK INDUSTRI




Statistik adalah seni pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan pada suatu analisis informasi yang terkandung di dalam suatu sampel. Metode statistik memainkan peranan penting dalam jaminan kualitas. Oleh karena kualitas menjadi faktor dasar keputusan konsumen dalam memilih produk atau jasa maka dibutuhkan suatu kegiatan yang harus dilakukan terus menerus selama proses produksi berjalan sehingga kualitas produk atau jasa tersebut tetap terjaga. Kegiatan tersebut dinamakan pengendalian kualitas. Juran dalam “Quality Hand Book” menyatakan bahwa pengendalian kualitas tediri dari 3 aspek (The Juran Trilogy) yang terdiri dari : perencanaan kualitas, pengendalian kualitas, dan perbaikan kualitas.
Statistical Quality Control (pengendalian kualitas statistik) adalah alat bantu manajemen untuk menjamin kualitas. Pengujian statistik diperlukan untuk menyelesaikan masalah seperti ini, dan dalam Statistical Quality Control teknik-teknik tersebut diaplikasikan guna memeriksa dan menguji data untuk menentukan standar dan mengecek kesesuaian produk untuk mencapai operasi manufaktur yang maksimum, dan biasanya menghasilkan biaya kualitas yang lebih rendah dan menaikkkan tingkat posisi kompetitif. Tujuan utama Statistical Quality Control adalah meminimumkan variabilitas dalam karakteristik kualitas produk atau jasa. Untuk mengambil keputusan dalam Statistical Quality Control dapat menggunakan alat yang dikenal dengan seven tools, yang terdiri dari : process flow diagram, cause and effect (fishbone) diagram, control chart (grafik pengendali), check sheet, pareto diagram, scatter plot, dan histogram.
Penerapan Statistical Quality Control  dengan penelitian tentang “Pemantauan Data Kehadiran Mahasiswa di Universitas  Menggunakan Grafik Pengendali”. Masalah utama penelitian ini adalah tidak adanya kesesuaian antara jumlah mahasiswa yang tapping pada mesin Radio Frequency Identification (RFID) dengan jumlah mahasiswa yang hadir di kelas. Untuk memantau data kehadiran mahasiswa di Universitas dapat menggunakan grafik pengendali. Grafik pengendali merupakan salah satu komponen dari seven tools dan merupakan sebuah grafik yang memberikan gambaran tentang perilaku sebuah proses. Grafik pengendali ini digunakan untuk memahami apakah sebuah proses berjalan dalam kondisi yang terkontrol atau tidak. Sebuah proses yang cukup stabil, tapi berjalan di luar batas yang diharapkan, harus segera diperbaiki untuk menemukan penyebab guna mendapatkan hasil perbaikan yang fundamental.
Grafik pengendali dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu grafik pengendali variabel dan atribut. Grafik pengendali variabel digunakan untuk karakteristik kualitas yang dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sedangkan grafik pengendali atribut digunakan untuk karakteristik kualitas yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk angka. Grafik pengendali variabel digunakan pada penelitian ini karena karakteristik kualitas yang digunakan dapat dinyatakan dalam bentuk angka. Karakteristik kualitas yang dimaksud adalah jumlah mahasiswa yang tapping di mesin RFID dan jumlah mahasiswa yang hadir di kelas.

Saturday, February 10, 2018

Statistical Process Control-TEKNIK INDUSTRI

Pengendalian Proses Statistik (Statistical Process Control)
Statistik adalah seni pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan suatu analisis informasi yang terkandung didalam suatu sampel dari populasi itu. Metode statistik memainkan peranan penting dalam jaminan kualitas. Metode statistik itu memberikan cara – cara pokok dalam pengambilan sampel produk, pengujian serta evaluasinya dan informasi didalam data itu digunakan untuk mengendalikan dan meningkatkan proses pembuatan. Lagipula statistik adalah bahasa yang digunakan oleh insinyur pengembangan, pembuatan, pengusahaan, manajemen, dan komponen – komponen fungsional bisnis yang lain untuk berkomunikasi tentang kualitas. (Montgomery, 1993)
Untuk menjamin proses produksi dalam kondisi baik dan stabil atau produk yang dihasilkan selalu dalam daerah standar, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap titik origin dan halhal yang berhubungan, dalam rangka menjaga dan memperbaiki kualitas produk sesuai dengan harapan. Hal ini disebut Statistical Process Control (SPC).
Dalam pengendalian proses statistik dikenal adanya “seven tools”. Seven tools dari pengendalian proses statistik ini adalah metode grafik paling sederhana untuk menyelesaikan masalah. Seven tools tersebut adalah:
  1. Lembar pengamatan (check sheet)
  2. Stratifikasi (run chart)
  3. Histogram
  4. Grafik kendali (control chart)
  5. Diagram pareto
  6. Diagram sebab akibat (cause and effect diagram)
  7. Diagram sebar (scatter diagram)
Lembar Pengamatan (Check Sheet): Lembar pengamatan adalah lembar yang digunakan untuk mencatat data produk termasuk juga waktu pengamatan, permasalahan yang dicari dan jumlah cacat pada setiap permasalahan.
Stratifikasi (Run Chart): Stratifikasi adalah suatu upaya untuk mengurai atau mengklasifikasi persoalan menjadi kelompok atau golongan sejenis yang lebih kecil atau menjadi unsur-unsur tunggal dari persoalan.
Histogram: Histogram adalah diagram batang yang menunjukkan tabulasi dari data yang diatur berdasarkan ukurannya. Tabulasi data ini umumnya dikenal sebagai distribusi frekuensi. Histogram menunjukkan karakteristik-karakteristik dari data yang dibagi-bagi menjadi kelas-kelas. Pada histogram frekuensi, sumbu x menunjukkan nilai pengamatan dari tiap kelas. Histogram dapat berbentuk “normal” atau berbentuk seperti lonceng yang menunjukkan bahwa banyak data yang terdapat pada nilai rata-ratanya. Bentuk histogram yang miring atau tidak simetris menunjukkan bahwa banyak data yang tidak berada pada nilai rata-ratanya tetapi kebanyakan datanya berada pada batas atas atau bawah. Fungsi dari histogram adalah sebagai berikut:
  • Menentukan apakah suatu produk dapat diterima atau tidak.
  • Menentukan apakah proses produk sudah sesuai atau belum.
  • Menentukan apakah diperlukan langkah-langkah perbaikan.
Grafik Kendali (Control Chart): Grafik pengendali adalah suatu alat yang secara grafis digunakan untuk memonitor apakah suatu aktivitas dapat diterima sebagai proses yang terkendali. Grafik pengendali terkadang disebut dengan Shewhart control charts karena grafik ini pertama kali dibuat oleh Walter A. Shewhart. Nilai dari karekterisik kualitas yang dimonitor, digambarkan sepanjang sumbu y, sedangkan sumbu x menggambarkan sampel atau subgroup dari karakteristik kualitas tersebut. Sebagai contoh karakteristik kualitas adalah panjang rata-rata, diameter rata-rata, dan waktu pelayanan rata-rata. Semua karakteristik tersebut dinamakan variabel dimana nilai numeriknya dapat diketahui. Sedangkan atribut adalah karakteristik kualitas yang ditunjukkan dengan jumlah produk cacat, jumlah ketidaksesuaian dalam satu unit, serta jumlah cacat per unit. Terdapat tiga garis pada grafik pengendali. Center line atau garis tengah adalah garis yang menunjukkan nilai rata-rata dari karakteristik kualitas yang diplot pada grafik. Upper limit control atau batas pengendali atas dan lower limit control atau batas pengendali bawah digunakan untuk membuat keputusan mengenai proses. Jika terdapat data yang berada di luar batas pengendali atas dan batas pengendali bawah serta pada pola data tidak acak atau random maka dapat diambil kesimpulan bahwa data berada di luar kendali statistik.
Diagram Pareto: Diagram pareto pertama kali diperkenalkan oleh Alfredo Pareto dan digunakan pertama kali oleh Joseph Juran. Fungsi diagram pareto adalah untuk mengidentifikasi atau menyeleksi masalah utama untuk peningkatan kualitas. Diagram ini menunjukkan seberapa besar frekuensi berbagai macam tipe permasalahan yang terjadi dengan daftar masalah pada sumbu x dan jumlah/frekuensi kejadian pada sumbu y. Kategori masalah diidentifikasikan sebagai masalah utama dan masalah yang tidak penting. Prinsip Pareto adalah 80 % masalah (ketidaksesuaian atau cacat) disebabkan oleh 20 % penyebab. Prinsip Pareto ini sangat penting karena prinsip ini mengidentifikasi kontribusi terbesar dari variasi proses yang menyebabkan performansi yang jelek seperti cacat. Pada akhirnya, diagram pareto membantu pihak manajemen untuk secara cepat menemukan permasalahan yang kritis dan membutuhkan perhatian secepatnya sehingga dapat segera diambil kebijakan untuk mengatasinya.
Diagram Sebab Akibat (Cause and Effect Diagram): Diagram sebab akibat juga disebut Ishikawa Diagram karena diagram ini diperkenalkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun 1943. Diagram ini terdiri dari sebuah panah horizontal yang panjang dengan deskripsi masalah. Penyebab-penyebab masalah digambarkan dengan garis radial dari garis panah yang menunjukan masalah. Kegunaan dari diagram sebab akibat adalah:
  • Menganalisis sebab dan akibat suatu masalah.
  • Menentukan penyebab permasalahan.
  • Menyediakan tampilan yang jelas untuk mengetahui sumber-sumber variasi.
Diagram Sebar (Scatter Diagram): Scatter diagram adalah grafik yang menampilkan hubungan antara dua variabel apakah hubungan antara dua variabel tersebut kuat atau tidak yaitu antara faktor proses yang mempengaruhi proses dengan kualitas produk. Pada sumbu x terdapat nilai dari variabel independen, sedangkan pada sumbu y menunjukkan nilai dari variabel dependen.

Friday, February 9, 2018

PENGERTIAN EXECUTIVE LEADERSHIP,CHAMPION, MASTER BLECK BELT, BLECK BELT, DAN GREEN BELT PADA LEAN SIX SIGMA-TEKNIK INDUSTRI

teknikindustriblog.blogspot.com

STRUKTUR ORGANISASI DALAM LEAN SIX SIGMA
 Salah satu kunci inovasi dalam metode Lean Six Sigma terletak dalam usaha profesionalisasi kualitas dan fungsi manajemen. Sebelum adanya Lean Six Sigma, kualitas manajemen dalam prakteknya sebagian besar diserahkan kepada pabrik dan ahli statistik yang masing-masing berada di departemen yang berbeda.
Karena Lean Six Sigma merupakan metodologi yang berpusat kepada manusia, maka dalam setiap inisiatifnya diperlukan berbagai peran dengan tanggung jawab dan tugas-tugas yang berbeda untuk memungkinkan berjalannya proyek-proyek Lean Six Sigma. Peran-peran tersebut adalah:

1)      Executive Leadership
Termasuk CEO dan anggota top management lainnya. Mereka bertanggung jawab dalam menentukan visi untuk implementasi Lean Six Sigma. Mereka juga memfasilitasi pemegang peran lainnya dengan kebebasan dan sumber daya untuk mengeksplorasi ide-ide baru untuk sebuah terobosan perbaikan.

2)      Champion
Champion mengambil tanggun jawab dalam menerapkan filosofi Lean Six Sigma dalam organisasi secara keseluruhan. Executive Leadership akan memilih mereka dari jajaran manajemen tingkat atas. Champion juga bertindak sebagai mentor bagi para Black Belt.

3)      Master Black Belt
Master Black Belt ditunjuk oleh Champion, berperan sebagai in-house coach Lean Six Sigma. Master Black Belt dapat memberikan pelatihan mengenai Lean Six Sigma dan tools-tools nya kepada karyawan lain di perusahaan. Mereka berperan sebagai pemimpin dan pembimbing dalam proyek dan mendedikasikan 100% waktu untuk pelaksanaan berbagai proyek Lean Six Sigma. Mereka bertanggung jawab terhadap Champion dan membimbing Black Belt dan Green Belt dalam proyek. Selain tugas-tugas stastistikal, mereka juga bertugas memastikan aplikasi Lean Six Sigma berjalan konsisten di setiap bagian dan departemen.

4)      Black Belt
Black Belt adalah profesional yang dapat menjelaskan filosifi dan prinsip-prinsip Lean Six Sigma dengan baik, termasuk semua tool pendukungnya. Seorang Black Belt harus memiliki kemampuan memimpin tim, mengerti dinamika tim, dan mendelegasikan peran dan tanggung jawab kepada seluruh anggota tim. Black Belt memiliki pemahaman mendalam akan seluruh aspek model DMAIC sesuai dengan prinsip-prinsip Six Sigma. Mereka memiliki pengetahuan dasar mengenai konsep Lean Enterprise, dan mampu mengidentifikasi elemen-elemen dan aktifitas tanpa nilai tambah (pemborosan / waste) serta menggunakan tool yang spesifik untuk meneliminasinya.
Black Belt beroperasi dibawah bimbingan Master Black Belt untuk mengaplikasikan metodologi Lean Six Sigma dalam proyek-proyek yang lebih spesifik. Mereka berkontribusi penuh dalam penerapan Lean Six Sigma. Black Belt memiliki tanggung jawab utama pada eksekusi proyek.

5)      Green Belt
Green Belt adalah karyawan yang melakukan penerapan Lean Six Sigma bersamaan dengan tanggung jawab pekerjaaannya yang lain.  Mereka beroperasi dibawah bimbingan Black Belt dalam menjalankan proyek. Green Belt bertugas menganalisa dan mengatasi masalah kualitas dan terlibat aktif dalam proyek-proyek improvement. Green Belt adalah mereka yang paling tidak memiliki tiga tahun pengalaman kerja dan mampu mendemonstrasikan pengetahuannya akan tools dan proses yang mengacu kepada Lean Six Sigma. Beberapa organisasi menambah beberapa ‘warna’ belt, seperti Yellow Belt, untuk karyawan yang telah menyelesaikan pelatihan dasar tool Six Sigma yang juga berpatrisipasi dalam proyek, dan ada juga ‘white belt’ yang telah diberi pelatihan lokal mengenai konsep-konsep Six Sigma namun tidak berpartisipasi dalam proyek.
Sertifikasi
Beberapa perusahaan seperti General Electric dan Motorola yang merupakan pionir Six Sigma mengembangkan program sertifikasi sebagai bagian dari inisiatif penerapan Six Sigma, yang berguna untuk menentukan hirarki tanggung jawab menurut tingkat kecakapan yang relevan. Berdasarkan pendekatan ini, banyak organisasi pada tahun 90an mulai menawarkan program sertifikasi Lean Six Sigma untuk karyawan mereka. Kriteria yang ditetapkan perusahaan untuk Black Belt dan Green Belt bervariasi; beberapa perusahaan hanya mempersyaratkan karyawannya berpartisipasi dalam suatu pelatihan dan proyek Lean Six Sigma.

Tuesday, February 6, 2018

PROBABILITY SAMPLING DAN NON PROBABILITY SAMPLING - teknik industri

teknikindustriblog.blogspot.com
PROBABILITY SAMPLING  DAN NON PROBABILITY SAMPLING
Probability Sampling adalah teknik pengambilan sample dimana semua elemen mempunyai peluang untuk terpilih menjadi sample. Dengan menggunakan teknik ini berarti tidak ada kendala apapun untuk melakukan penelitian terhadap kemungkinan/probabilitas dari elemen manapun jika terpilih sebagai sample. Jenis-jenis Probability Sampling antara lain:
  1.  Simple Random Sampling
Metode sample jenis ini dilakukan dengan memberikan kesempatan yang sama pada semua elemen untuk dapat dipilih sebagai sample.
  2.  Systematic Sampling
Sampling jenis ini dilakukan dengan cara peneliti memberikan batasan berupa n elemen dari setiap populasi akan terpilih sebagai sample, dengan demikian elemen pertama dan setiap kelipatan n, akan terpilih menjadi sample. Penentuan urutan elemen tetap dilakukan secara acak/random.
  3.  Stratified Random Sampling
Sampling design jenis ini dilakukan dengan cara membagi populasi yang ada menjadi beberapa kelompok sesuai dengan klasifikasi dengan mendasarkan diri pada kebutuhan, relevansi, dan keselarasan dengan tujuan studi. Setelah itu elemen akan dipilih dari tiap-tiap kelompok secara acak/random.
  4.  Cluster Sampling
Desain sampel jenis ini akan cocok untuk dipilih jika peneliti ingin dalam setiap kelompok elemen, heterogenitasnya tetap terjaga. Peneliti berharap komposisi dari sample akan diusahakan sedemikian rupa sehingga serupa dengan karakteristik populasi.
  5.   Area Sampling
Area sampling ini sebenarnya sama dengan cluster sampling, hanya bedanya adalah dasar untuk mengelompokkan adalah faktor geografis, seperti misalnya benua, negara, provinsi, kota, dan kecamatan.
  6.  Double Sampling
Jenis sampling ini akan dipergunakan jika peneliti ingin mendapatkan data lebih detail dari data yang telah diperoleh sebelumnya.

Non Probability Sampling
Pada jenis ini, tidak semua elemen mempunyai peluang untuk terpilih sebagai sample, dengan demikian temuan hasil studi yang menggunakan sampling jenis ini tidak dapat langsung digeneralisasikan sebagai hasil penelitian terhadap populasi. Tujuan peneliti menggunakan sampling jenis ini adalah generalisasi terhadap populasi tidak terlalu penting, dibanding temuan yang didapat waktu melakukan suatu penelitian, atau peneliti memiliki hambatan-hambatan sehingga melakukan penghematan sumber daya yang dimilikinya. Jenis Non Probability Sampling antara lain:
  1.  Convenience Sampling
Jenis sampling design ini akan dipilih oleh peneliti jika peneliti telah mempunyai informasi tentang elemen yang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai sample.
  2.  Purposive Sampling
Sampling design jenis ini adalah metode penetapan sample dengan cara menentukan target dari elemen populasi yang diperkirakan paling cocok untuk dikumpulkan datanya.
  3.  Judgement Sampling
Jenis sampling ini dilakukan jika peneliti menentukan subjek dari sample yang terpilih berdasarkan penilaian (judgement) dari peneliti semata.
  4.  Quota Sampling
Quota sampling adalah jenis lain dari purposive sampling, dimana dalam penentuan banyaknya jumlah elemen yang terpilih sebagai sample akan ditentukan berdasarkan quota maksimal sebanding dengan komposisi masing-masing kelompok.

contoh makalah teknik industri

teknikindustriblog.blogspot.com
MAKALAH
PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang maha Esa karena telah melimpahkan rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pengantar teknik industri ini sebagai bagian dari proses pembelajaran di kampus yang berjudul “Sejarah dan contoh perkembangan teknik industri”
Laporan ini disusun sebagai salah satu tugas untuk menambah pengetahuan khususnya pengantar Teknik Industri serta memahami sejarah dan perkembangan teknik industri.Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi kepada mahasiswa prodi teknik industri sebagai materi pembelajaran awal.
Dan tentunya kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kepada dosen kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang.
BAB I
PENDAHULUAN
A.Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi atau pengetahuan baru serta pemahaman mengenai sejarah serta contoh perkembangan teknik industri sehingga mahasiswa dapat membuat suatu kesimpulan dari semua informasi yang di dapat.

B.LATAR BELAKANG
Sejarah Singkat Teknik industri lahir sejak zaman Pra Yunani kuno Pada masa itu, manusia menggunakan batu dan tulang sebagai peralatan kerjanya. Alat – alat yang digunakan mengalami perbaikan secara berkala, sehingga meningkatkan produktivitas pada persoalan produksi. Hal ini terjadi sampai saat ini. Teknik industri sebenarnya berakar kuat pada masa revolusi industri. Revolusi industri telah mengubah secara dramatis proses MANUFAKTUR dan membantu lahirnya konsep – konsep ilmu pengetahuan di kemudian hari. Inovasi teknologi yang terjadi pada waktu itu ditujukan untuk membantu dalam mekanisasi beberapa operasional manual tradisional pada industri tekstil. Beberapa penemuan teknologi pada masa revolusi industri,yaitu penemuan mesin pintal yang ditemukan oleh James Hargreaves (1765), pengembangan water frame oleh Richard Arkweight (1769), dan mesin uap oleh James Watt.
C.PENGERTIAN DAN DEFINISI
Definisi Teknik industri adalah suatu teknik yang mencakup bidang desain/merancang, perbaikan, dan pemasangan dari sistem integral yang terdiri dari manusia, bahan-bahan, informasi, peralatan dan energi. Hal ini digambarkan sebagai pengetahuan dan keterampilan yang spesifik pada matematika, fisika, dan ilmu-ilmu sosial bersama dengan prinsip dan metode dari analisis keteknikan dan desain untuk mengkhususkan, memprediksi, dan mengevaluasi hasil yang akan dicapai dari suatu sistem.
Sementara, teknik industri menurut Institute of Industrial Engineering (IIE) terkait dengan perancangan, perbaikan, dan instalasi sistem terintegrasi seperti orang, material, informasi, peralatan, dan energi dan dibangun atas pengetahuan dan keahlian khusus dalam bidang matematika, fisika, dan ilmu sosial bersama-sama dengan prinsip dan metode analisis rekayasa dan desain untuk menetapkan, memprediksi, dan mengevalusi hasil yang akan dicapai dari suatu sistem.

BAB II
ISI
A.SEJARAH TEKNIK INDUSTRI
Di dunia
Awal mula Teknik Industri dapat ditelusuri dari beberapa sumber berbeda. Frederick Winslow Taylor sering ditetapkan sebagai Bapak Teknik Industri meskipun seluruh gagasannya tidak asli. Beberapa risalah terdahulu mungkin telah memengaruhi perkembangan Teknik Industri seperti risalah The Wealth of Nations karya Adam Smith, dipublikasikan tahun 1776; Essay on Population karya Thomas Malthus dipublikasikan tahun 1798; Principles of Political Economy and Taxation karya David Ricardo, dipublikasikan tahun 1817; dan Principles of Political Economy karya John Stuart Mill, dipublikasikan tahun 1848. Seluruh hasil karya ini mengilhami penjelasan paham Liberal Klasik mengenai kesuksesan dan keterbatas dari Revolusi Industri. Adam Smith adalah ekonom yang terkenal pada zamannya. “Economic Science” adalah frasa untuk menggambarkan bidang ini di Inggris sebelum industrialisasi America muncul .
Kontribusi penting lainnya dan mengilhami Taylor adalah Charles W. Babbage. Babbage adalah profesor ahli matematika di Cambridge University. Salah satu kontribusi pentingnya adalah buku yang berjudul On the Economy of Machinery and Manufacturers tahun 1832 yang mendiskusikan banyak topik menyangkut MANUFAKTUR. Babbage mendiskusikan gagasan tentang Kurva Belajar (Learning Curve), pembagian tugas dan bagaimana proses pembelajaran dipengaruhi, dan efek belajar terhadap peningkatan pemborosan. Dia juga sangat tertarik pada metode pengaturan pemborosan. Charles Babbage adalah orang pertama yang menganjurkan membangun komputer mekanis. Dia menyebutnya “analytical calculating machine” , untuk tujuan memecahkan masalah matematika yang kompleks.
Di Amerika Serikat selama akhir abad 19 telah terjadi perkembangan yang memengaruhi pembentukan Teknik Industri.
Henry R. Towne menekankan aspek ekonomi terhadap pekerjaan insinyur yakni bagaimana seorang insinyur akan meningkatkan laba perusahaan? Towne kemudian menjadi anggota American Society of Mechanical Engineers (ASME) sebagaimana yang dilakukan beberapa pendahulunya di bidang Teknik Industri. Towne menekankan perlunya
mengembangkan suatu bidang yang terfokus pada sistem manufactur. Dalam Industrial Engineering Handbook dikatakan bahwa “ASME adalah tempat berkembang biaknya Teknik Industri”. Towne bersama Fredrick A. Halsey bekerja mengembangkan dan memaparkan suatu Rencana Kerja untuk mengurangi pemborosan kepada ASME. Tujuan Recana ini adalah meningkatkan produktivitas pekerja tanpa berpengaruh negatif terhadap ongkos produksi. Rencana ini juga menganjurkan bahwa sebagian keuntungan dapat dibagikan kepada pekerja dalam bentuk insentif.
Henry L. Gantt (juga anggota ASME) menekankan pentingnya seleksi karyawan dan pelatihannya. Dia, seperti juga Towne dan Halsey, memaparkan paper dengan topik-topik seperti biaya, seleksi karyawan, pelatihan, skema insentif, dan penjadwalan kerja. Dia adalah pencipta Diagram Gantt (Gantt chart), yang saat ini merupakan diagram yang sangat populer digunakan dalam penjadwalan kerja. Sampai sekarang Gantt chart digunakan dalam bidang statitik untuk membuat prediksi yang akurat. Jenis diagram lainnya telah dikembangkan untuk tujuan penjadwalan seperti Program Evaluation and Review Technique (PERT) dan Critical Path Mapping (CPM).
Sejarah Teknik Industri tidak lengkap tanpa menyebut Frederick Winslow Taylor. Taylor mungkin adalah pelopor Teknik Industri yang paling terkenal. Dia mempresentasikan gagasan mengenai pengorganisasian pekerjaan dengan menggunakan manajemen kepada seluruh anggota ASME. Dia menciptakan istilah “Scientific Management” untuk menggambarkan metode yang dia bangun melalui studi empiris. Kegiatannya, seperti yang lainnya, meliputi topik-topik seperti pengorganisasian pekerjaan dengan manajemen, seleksi pekerja, pelatihan, dan kompensasi tambahan bagi seluruh individu yang memenuhi standar yang dibuat perusahaan.
Scientific Management memiliki efek yang besar terhadap Revolusi Industri, baik di Amerika maupun di luar negara Amerika.
Keluarga Gilbreth diakui akan pengembangan terhadap Studi Waktu dan Gerak (Time and Motion Studies). Frank Bunker Gilbreth dan istrinya Dr. Lillian M. Gilbreth melakukan penelitian mengenai Pemahaman Kelelahan (Fatigue), Skill Development, Studi Gerak (Motion Studies), dan Studi Waktu (Time Studies). Lillian Gilbreth memeliki gelasr Ph.D. dalam bidang Psikologi yang membantunya dalam memahami masalah-masalah manusia. Keluarga Gilbreth meyakini bahwa terdapat satu cara terbaik (“one best way”) untuk melakukan pekerjaan. Salah satu pemikiran mereka yang siginifikan adalah pengklasifikasian gerakan dasar manusia ke dalam 17 macam, dimana ada gerakan yang efektif dan ada yang tidak efektif. Mereka menamakannya Tabel Klasifikasi Therbligs (ejaan terbalik dari kata Gilbreth). Gilbreth menyimpulkan bahwa waktu untuk menyelesaikan gerakan yang efektif (effective therblig) lebih singkat tetapi sulit untuk dikurangi, demikian sebaliknya dengan non-effective therbligs. Gilbreth mengklaim bahwa setiap bentuk pekerjaan dapat dipisah-pisah ke dalam bentuk pekerjaan yang lebih sederhana.
Saat Amerika Serikat menghadapi Perang Dunia II, secara diam-diam pemerintah mendaftarkan para ilmuwan untuk meneliti perencanaan, metode produksi, dan logistik dalam perang. Para ilmuwan ini mengembangkan sejumlah teknik untuk pemodelan dan memprediksi solusi optimal. Lebih lanjut saat informasi ini terbongkar. lahirlah Operation Research. Banyak hasil penelitian yang masih sangat teoritis dan pemahaman bagaimana menggunakannya dalam dunia nyata tidak ada. Hal inilah yang menyebabkan jurang antara kelompok Operation Research (OR) dan profesi insinyur terlalu lebar. hanya sedikit perusahaan yang dengan sigap membentuk departemen Operation Research dan mengkapitalisasikannya.
Pada 1948 sebuah komunitas baru, American Institute for Industrial Engineers (AIIE), dibuka untuk pertama kalinya. Pada masa ini Teknik Industri benar-benar tidak mendapat tempat yang khusus dalam struktur perusahaan. Selama tahun 1960 dan sesudahnya, beberapa perguruan tinggi mulai mengadopsi teknik-teknik operation research dan menambahkannya pada kurikulum TeknikIndustri.
Sekarang untuk pertama kalinya metode-metode Teknik Industri disandarkan pada fondasi analisa, termasuk metode empiris terdahulu lainnya. Pengembangan baru terhadap optimisasi dalam matematika sebagaimana metode baru dalam analisa statistik membantu dalam mengisi lubang kosong bidang Teknik Industri dengan pendekatan teoritis.
Kemudian, permasalahan Teknik Industri menjadi begitu besar dan kompleks pada dan saat komputer digital berkembang. Dengan komputer digital dan kemampuannya menyimpan data dalam jumlah besar, insinyur Teknik Industri memiliki alat baru untuk mengkalkulasi permasalahan besar secara cepat. Sebelumnya komputasi pada suatu sistem memakan mingguan bahkan bulanan, tetapi dengan komputer dan perkembangan sub-program “sub-routines”, perhitungan dapat dilakukan dalam hitungan menit dan dengan mudah dapat diulangi terhadap kriteria problem yang baru. Dengan kemampuannya menyimpan data, hasil perhitungan pada sistem sebelumnya dapat disimpan dan dibandingkan dengan informasi baru. Data-data ini membuat Teknik Industri menjadi cara yang kuat dalam mempelajari sistem produksi dan reaskinya bila terjadi perubahan.
Di Indonesia
Sejarah Teknik Industri di Indonesia di awali dari kampus ITB Institut Teknologi Bandung. Sejarah pendirian pendidikan Teknik Industri di ITB tidak terlepas dari kondisi praktik sarjana mesin pada tahun lima-puluhan. Pada waktu itu, profesi sarjana Teknik mesin merupakan kelanjutan dari profesi pada zaman Belanda, yaitu terbatas pada pekerjaan pengoperasian dan perawatan mesin atau fasilitas produksi. Barang-barang modal itu sepenuhnya diimpor, karena di Indonesia belum terdapat pabrik mesin.
Di Universitas Indonesia keilmuan Teknik Industri telah dikenalkan pada awal tahun tujuh puluhan, dan merupakan sub bagian dari keilmuan Teknik Mesin. Sejak 30 Juni 1998, diresmikanlah Jurusan Teknik Industri (sekarang Departemen Teknik Industri) Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Kalau pada masa itu, dijumpai bengkel-bengkel tergolong besar yang mengerjakan pekerjaan perancangan konstruksi baja seperti yang antara lain terdapat di kota Pasuruan dan Klaten, pekerjaan itu pun masih merupakan bagian dari kegiatan perawatan untuk mesin-mesin pabrik gula dan pabrik pengolahan hasil perkebunan yang terdapat di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan demikian kegiatan perancangan yang dilakukan oleh para sarjana Teknik Mesin pada waktu itu masih sangat terbatas pada perancangan dan pembuatan suku-suku cadang yang sederhana berdasarkan contoh-contoh barang yang ada. Peran yang serupa bagi sarjana Teknik Mesin juga terjadi di pabrik semen dan di bengkel-bengkel perkereta-apian.
Pada saat itu, dalam menjalankan profesi sebagai sarjana Teknik Mesin dengan tugas pengoperasian mesin dan fasilitas produksi, tantangan utama yang mereka hadapi ialah bagaimana agar pengoperasian itu dapat diselenggarakan dengan lancar dan ekonomis. Jadi fokus pekerjaan sarjana Teknik Mesin pada saat itu ialah pengaturan pembebanan pada mesin-mesin agar kegiatan produksi menjadi ekonomis, dan perawatan (maintenance) untuk menjaga kondisi mesin supaya senantiasa siap pakai.
Pada masa itu, seorang kepala pabrik yang umumnya berlatar-belakang pendidikan mesin, sangat ketat dan disiplin dalam pengawasan terhadap kondisi mesin. Di pagi hari sebelum pabrik mulai beroperasi, ia keliling pabrik memeriksa mesin-mesin untuk menyakini apakah alat-alat produksi dalam keadaan siap pakai untuk dibebani suatu pekerjaan.
Pengalaman ini menunjukan bahwa pengetahuan dan kemampuan perancangan yang dipunyai oleh seorang sarjana Teknik Mesin tidak banyak termanfaatkan, tetapi mereka justru memerlukan bekal pengetahuan manajemen untuk lebih mampu dan lebih siap dalam pengelolaan suatu pabrik dan bengkel-bengkel besar.
Sekitar tahun 1955, pengalaman semacam itu disadari benar keperluannya, sehingga sampai pada gagasan perlunya perkuliahan tambahan bagi para mahasiswa Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik.
Pada tahun yang sama, orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia karena terjadi krisis hubungan antara Indonesia-Belanda, sebagai akibatnya, banyak pabrik yang semula dikelola oleh para administratur Belanda, mendadak menjadi vakum dari keadministrasian yang baik. Pengalaman ini menjadi dorongan yang semakin kuat untuk terus memikirkan gagasan pendidikan alternatif bidang keahlian di dalam pendidikan Teknik Mesin.
Pada awal tahun 1958, mulai diperkenalkan beberapa mata kuliah baru di Departemen Teknik Mesin, diantaranya : Ilmu Perusahaan, Statistik, Teknik Produksi, Tata Hitung Ongkos dan Ekonomi Teknik. Sejak itu dimulailah babak baru dalam pendidikan Teknik Mesin di ITB, mata kuliah yang bersifat pilihan itu mulai digemari oleh mahasiswa Teknik Mesin dan juga Teknik Kimia dan Tambang.
Sementara itu pada sekitar tahun 1963-1964 Bagian Teknik Mesin telah mulai menghasilkan sebagian sarjananya yang berkualifikasi pengetahuan manajemen produksi/teknik produksi. Bidang Teknik Produksi semakin berkembang dengan bertambahnya jenis mata kuliah.
Mata kuliah seperti : Teknik Tata Cara, Pengukuran Dimensional, Mesin Perkakas, Pengujian Tak Merusak, Perkakas Pembantu dan Keselamatan Kerja cukup memperkaya pengetahuan mahasiswa Teknik Produksi.
Pada tahun 1966 – 1967, perkuliahan di Teknik Produksi semakin berkembang. Mata kuliah yang berbasis teknik industri mulai banyak diperkenalkan. Sistem man-machine-material tidak lagi hanya didasarkan pada lingkup wawasan MANUFAKTUR saja, tetapi pada lingkup yang lebih luas yaitu perusahaan dan lingkungan. Dalam pada itu, di Departemen ini mulai diajarkan mata kuliah : Manajemen Personalia, Administrasi Perusahaan, Statistik Industri, Perancangan Tata Letak Pabrik, Studi Kelayakan, Penyelidikan Operasional, Pengendalian Persediaan Kualitas Statistik dan Programa Linier. Sehingga pada tahun 1967, nama Teknik Produksi secara resmi berubah menjadi Teknik Industri dan masih tetap bernaung di bawah Bagian Teknik Mesin ITB.
Pada tahun 1968 – 1971, dimulailah upanya untuk membangun Departemen Teknik Industri yang mandiri. Upaya itu terwujud pada tanggal 1 Januari 1971.
B.Contoh perkembangan Teknologi Industri
1.Perkembangan Industri Perbankan
Perkembangan teknologi telah merubah bisnis dan cara menjalankan bisnis, semua sektor industri merasakan dampak dari perkembangan teknologi, berbagai fasilitas layanan muncul untuk mempermudah dan memuaskan konsumen. Industri perbankan menghadirkan layanan berbasis teknologi nirkabel untuk mempermudah dan memuaskan konsumen yang disebut mobile banking, salah satu bank yang menghadirkan teknologi tersebut untuk mempermudah dan memuaskan nasabahnya adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Penelitian ini mencoba memberikan bukti empiris tentang kesuksesan implementasi layanan mobile banking di BRI menggunakan model kesuksesan DeLone & McLean dengan variabel tambahan keamanan & kerahasiaan, sebagai sampel adalah nasabah BRI unit Klaten sebanyak 52 orang yang berinteraksi dan menggunakan layanan mobile banking, pengumpulan data melalui kuisioner dan analisa data menggunakan SEM dengan alat bantu PLS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model DeLone & McLean terbukti secara empiris, semua variabel menunjukkan pengaruh yang signifikan dan positif selain hubungan antara kualitas informasi dengan penggunaan sistem dan hubungan antara penggunaan sistem dengan dampak individu.
2.Perkembangan Teknologi Industri Mobil
Beberapa perusahaan sudah pindah dari jalur perakitan robot.. Berikan dua alasan mengapa hal ini mungkin terjadi. Jelaskan peran yang akan komputer masih bermain perusahaan MANUFAKTUR di prosedur.Namun ada sisi negatifnya:
Produk baru perlu lengkap pemrograman ulang mesin, mungkin dengan perkakas baru.
Pemeliharaan harus dilakukan dengan standar yang tinggi.
Kegagalan sistem komputer akan mengakibatkan hancurnya jalur perakitan
Beberapa proses tidak dapat dilakukan oleh robot. Mereka masih memerlukan operator terampil.
3.Perkembangan Teknologi Industri Robotika
Perkembangan teknologi robotika pada satu dekade ini berlangsung dengan pesat ditandai dengan banyaknya penerapan teknologi robot untuk menggantikan manusia.
Adapun akhir-akhir ini, peran open source di bidang sistem operasi dan aplikasi sudah cukup luas dan berkembangn dengan pesat berkat keterbukaannya dalam membangun sebuah aplikasi. Hal ini juga sudah mulai merambah ke dunia teknologi robotika , salah satunya melalui pengembangan Robot lego Mindstorm NXT dan pemrograman Lego dengan NXC yang menggunakan aplikasi open source. Kesempatan untuk implementasi aplikasi open source di kampus cukup terbuka lebar mengingat adanya civitas akademika yang berkecimpung sebagai aktivis open source di bidang robotika dan tingginya antusiasme mahasiswa dalam kompetisi robot yang diadakan berbagai institusi di seluruh indonesia. Pergerakan mahasiswa dalam pengembangan teknologi robotika bukannya tidak menemui hambatan. Selain kompetensi teknologi robotika, koordinasi dan pendanaan serta fasilitas pendukung juga merupakan hal yang tidak bisa
diabaikan .
Maka dari itu, civitas akademika khususnya mahasiswa diharapkan dapat mengambil peran sebagai pionir dalam pengembangan teknologi robotika untuk kemajuan industri dan teknologi di Indonesia.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Teknik Industri mempunyai peran penting dalam perkembangan teknologi didunia.Bukan hanya dari aspek manusia nya , tetapi juga dari material yang dipergunakan dalam perkembangannya sesuai dengan definisi Teknik Industri itu sendiri yaitu :suatu teknik yang mencakup bidang desain/merancang, perbaikan, dan pemasangan dari sistem integral yang terdiri dari manusia, bahan-bahan, informasi, peralatan dan energi. Hal ini digambarkan sebagai pengetahuan dan keterampilan yang spesifik pada matematika, fisika, dan ilmu-ilmu sosial bersama dengan prinsip dan metode dari analisis keteknikan dan desain untuk mengkhususkan, memprediksi, dan mengevaluasi hasil yang akan dicapai dari suatu sistem
B.Kritik dan Saran
Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak hal yang perlu di perbaiki, untuk itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun kami harapkan dari pendengar dan pembaca sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran bagi kami agar dalam pembuatan makalah kami selanjutnya lebik baik lagi.
Daftar Pustaka

Statistical Quality Control - TEKNIK INDUSTRI

Statistik adalah seni pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan pada suatu analisis informasi yang terkand...