CONTOH TUGAS MANDIRI SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM)
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridhonya yang telah
memberikan saya kesempatan dan kesehatan untuk menyelesaikan laporan Supply Chain Management
(Scm). Shalawat dan salam saya curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW .
Dengan segala
keterbatasan, penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dorongan dari berbagai
pihak laporan ini tidak mungkin akan terwujud. Semoga bagi pembaca laporan Supply Chain Management (Scm) ini dapat
bermanfaat dan dapat menambahkan ilmu yang berguna untuk kita semua. Mungkin
laporan Supply Chain Management (Scm) ini jauh dari sempurna karena kesempurnaan itu
hanya milik Allah SWT. saya harap kritik dan saran yang
membangun dari pembaca laporan Peramalan Permintaan Pelanggan Mobil Mainan
Tamiya ini agar dapat mendekati suatu kesempurnaan.
Daftar Isi
Kata Pengantar........................................................................................................ ii
Daftar Isi................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
A.
Latar Belakang................................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah............................................................................................. 2
C.
Tujuan............................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 3
A. Definisi,
Konsep, Evolusi SCM....................................................................... 3
B. Customer
& Supplier Relationship Management.............................................. 10
C. Customer
Service Management........................................................................ 17
D. Demand
Management...................................................................................... 20
E. Pengembangan
Produk dan Komersialisasi ..................................................... 22
BAB III PENUTUP................................................................................................. 27
Kesimpulan................................................................................................................ 27
Daftar Pustaka......................................................................................................... 28
BAB
I
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang
Persaingan dalam industri pada era
sekarang ini semakin ketat. Salah satu hal yang membuat perusahaan bidang
industri bertahan adalah penyediaan produk yang tepat bagi konsumen di waktu
yang tepat, dan dalam biaya ekonomis. Sekarang ini konsumen semakin kritis,
mereka menuntut penyediaan produk secara tepat tempat, tepat waktu. Sehingga
menyebabkan perusahaan manufaktur yang antisipatif akan hal ini akan mendapatkan
pelanggan sedangkan yang tidak antisipatif akan kehilangan pelanggan.
Ketersediaan
produk dan harga jual yang ekonomis hanya dapat terjadi jika ada koordinasi
yang baik antara perusahaan retail dengan pihak-pihak dalam rantai suplainya.
Koordinasi antara pihak-pihak dalam rantai suplai tidak hanya melibatkan
koordinasi persediaan saja, tetapi juga informasi tentang pasar yang berguna
bagi perencanaan perusahaan. Kekurangan persediaan produk pada distributor akan
berakibat kehilangan penjualan, sedangkan kelebihan tertentu akan berakibat
menumpuknya produk dan meningkatnya biaya pemeliharaan persediaan.
Selain
itu, koordinasi dengan toko-toko cabang sebagai salah satu mata rantai suplai
adalah penting, dimana kantor pusat dapat berbagi informasi dan mengumpulkan
informasi mengenai masing-masing supplier agar pengelolaan suplai dan
perencanaan penjualan produk dapat dilakukan dengan lebih baik. Pelaku industri
pun mulai sadar bahwa untuk menyediakan produk yang murah, berkualitas, dan
cepat, perbaikan di internal sebuah perusahaan manufaktur tidaklah cukup.
Kesadaran akan pentingnya peran semua pihak dalam menciptakan produk yang
murah, berkualitas, dan cepat inilah yang kemudian melahirkan konsep baru tahun
1990-an yaitu supply chain management (SCM).
Makalah
ini akan membahas mengenai supply chain management (SCM) dan hal-hal
lain yang berkaitan dengan rantai SCM yang menjadi satu solusi terbaik untuk
memperbaiki tingkat produktivitas antara perusahaan-perusahaan yang berbeda.
B.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana definisi, konsep dan
evolusi supply chain management (SCM)?
b.
Apa yang dimaksud dengan customer & supplier relationship management?
c.
Apa yang dimaksud dengan customer service
management Apa yang dimaksud dengan demand management?
d.
Apa yang dimaksud dengan demand management?
e.
Apa yang dimaksud dengan pengembangan produk
dan komersialisasi?
C.
Tujuan
a. Untuk mengetahui definisi, konsep dan evolusi supply chain
management (SCM).
b.
Untuk mengetahui customer & supplier
relationship management.
c. Untuk mengetahui customer service management Apa yang
dimaksud dengan demand management.
d. Untuk mengetahui demand management.
e. Untuk mengetahui pengembangan produk dan komersialisasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi, Konsep, Evolusi SCM
Definisi SCM
Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama
bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai
akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik,
distributor, toko atau ritel, serta perusahaan-perusahaan seperti perusahaan
jasa logistik. Lalu, istilah Supply Chain Management (SCM) adalah
metode, alat, atau pendekatan pengelolaan dari supply chain. Istilah SCM
pertama kali dikemukakan oleh Oliver & Weber pada tahun 1982.
Ada beberapa definisi tentang SCM. Misalnya, the Council of
Logistics Management memberikan definisi berikut:
Supply Chan Management is the systematic, strategic coordination of
the traditional business functions within a particular company and across
businesses within the supply chain for the purpose of improving the long term
performance of the individual company and the supply chain as a whole.
Jadi, Supply Chain Management tidak hanya berorientasi pada
urusan internal sebuah perusahaan, melainkan juga urusan eksternal yang
menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner. Alasan diperlukannya
koordinasi dan kolaborasi antar perusahaan pada supply chain adalah dikarenakan
perusahaan-perusahaan yang berada pada ustau supply chain pada intinya ingin
memuaskan konsumen akhir yang sama, mereka harus bekerjasama untuk membuat
produk yang murah, mengirimkannya tepat waktu, dan dengan kualitas yang bagus.
Hanya dengan kerjasama antara elemen-elemen supply chain, tujuan tersebut akan
bisa dicapai.
Semangat kolaborasi dan koordinasi juga didasari oleh kesadaran
bahwa kuatnya sebuah supply chain tergantung pada kekuatan seluruh elemen yang
ada di dalamnya. Sebuah pabrik yang sehat dan efisien tidak akan banyak berarti
apabila suppliernya tidak mampu menghasilkan bahan baku yang berkualitas atau
tidak mampu memenuhi pengiriman tepat waktu. Jadi, dalam supply chain, pabrik
perlu memberikan bantuan teknis dan manajerial terhadap supplier-suppliernya
karena pada akhirnya ini akan menciptakan kemampuan bersaing keseluruhan supply
chain.
Dari definisi tersebut, dapat dilihat bahwa semangat kolaborasi dan
koordinasi pada supply chain tidak mesti mengorbankan kepentingan tiap individu
perusahaan. SCM yang baik bisa meningkatkan kemampuan bersaing bagi supply
chain secara keseluruhan, namun tidak menyebabkan satu pihak berkorban dalam
jangka panjang. Oleh krena itu diperlukan pengertian, kepercayaan, dan aturan
main yang jelas. Misalnya, ketika suatu perusahaan mau membagi informasi secara
transparan, perusahaan partner harus menjaga informasi tersebut dari
pihak-pihak yang bisa menyalahgunakannya. Sangatlah penting untuk menjaga etika
bagi mereka yang menginginkan supply chain yang kuat dalam jangka panjang.[1]
Konsep SCM
Untuk dapat menawarkan produk yang menarik
dengan tingkat harga yang bersaing, setiap perusahaan harus berusaha menekan
atau mereduksi seluruh biaya tanpa mengurangi kualitas produk maupun standar
yang sudah ditetapkan. Salah satu upaya untuk mereduksi biaya tersebut adalah
melalui optimalisasi distribusi material dari pemasok, aliran material dalam
proses produksi sampai dengan distribusi produk ke tangan konsumen. Distribusi
yang optimal dalam hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep Supply
Chain Management. Supply Chain Management sesungguhnya bukan
merupakan suatu konsep yang baru. Menurut Turban, Rainer, Porter (2004),
terdapat 3 macam komponen rantai suplai, yaitu:
1.
Rantai Suplai Hulu (Upstream supply chain)
Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi
aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana
dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada
penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat
diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya
bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas
yang utama adalah pengadaan.
2.
Manajemen Rantai Suplai Internal (Internal Supply Chain Management) Bagian dari internal
supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan
dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran
organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di
dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi,
pabrikasi, dan pengendalian persediaan.
3.
Segmen Rantai Suplai Hilir (Downstream
supply chain segment) Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua
aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam
downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan,
transportasi, dan after-sales-service.
Menurut
Jebarus (2001) Supply Chain Management merupakan pengembangan lebih lanjut
dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini
menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari
supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas
antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas
yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut
berlangsung secara transparan. Supply Chain Management merupakan suatu
konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola
pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian,
jadual produksi, dan logistic.
Semua
perusahaan memerlukan sesuatu yang sangat ekonomis guna melakukan kegiatan
memproduksi untuk memperoleh keuntungan. Untuk mencapai keinginan tersebut,
kelancaran arus material yang diperlukan pasti melibatkan lebih dari satu rantai
pasokan. Faktor kritis dalam rantai pasokan yang efisien adalah pembelian,
karena tugas pembeliaan untuk menyeleksi pemasok (berikut materialnya) dan kemudian
membangun hubungan yang saling menguntungkan. Tanpa pemasok yang baik dan tanpa
pembelian yang memadai, rantai pasokan tidak akan memiliki peran untuk kondisi
pasar pada masa seperti sekarang ini. Supply Chain Management diperlukan
oleh perusahaan yang sudah mengarah pada pengelolaan dengan sistem just in
time, karena konsep just in time sangat menekankan ketepatan waktu kedatangan
material dari pemasok sampai ke tangan konsumen sesuai dengan yang ditetapkan.
Artinya, kedisiplinan dan komitmen seluruh mata rantai harus benar-benar
dilaksanakan, karena sistem just in time tidak menekankan pada persediaan atau zero
inventory. Sehingga apabila terjadi penyimpangan pada salah satu mata
rantai saja, maka akan mengganggu pasokan material secara keseluruhan dan
menghambat kelancaran tugas dari mata rantai yang lain, karena tidak adanya
persediaan.
Untuk
kondisi di Indonesia sistem just in time akan berhasil kalau mata rantai
terkait berada dalam satu cluster. Bagi perusahaan yang masih mementingkan
persediaan karena karakteristik material (misalnya faktor musiman) atau sebagai
langkah antisipatif untuk menyiasati lingkungan industri yang tidak stabil, Supply
Chain Management juga diperlukan. Peran Supply Chain Management
untuk jenis perusahaan ini adalah menekan biaya persediaan, karena persediaan
yang tidak optimal akan menimbulkan dampak biaya penyimpanan, biaya pemesanan,
dan biaya backorder (apabila terjadi stockout).
Baik
perusahaan yang menerapkan sistem just in time maupun yang masih mementingkan
persediaan, Supply Chain Management yang dilaksanakan akan lebih optimal
apabila diterapkan secara terintegrasi oleh seluruh mata rantai pasokan yang
terkait. Menerapkan konsep Supply Chain Management secara menyeluruh dan
terintegrasi tentu bukan merupakan hal yang mudah dilakukan perusahaan.
Kesulitan akan banyak dialami dalam kaitan dengan lingkungan eksternal yaitu
hubungan dengan supplier dan distributor serta konsumen akhir. Hal ini dapat
terjadi karena lingkungan eksternal relatif berada di luar kendali perusahaan,
sehingga perlu upaya kedua belah pihak untuk mencapai komitmen menjadi mata
rantai yang saling berkoordinasi untuk menyalurkan seluruh kebutuhan material
sesuai yang dibutuhkan.
Sekilas
konsep Supply Chain Management memiliki kesamaan dengan manajemen
logistic, karena keduanya mengelola arus baarang dan jasa melalui pembelian,
pergerakan, penyimpanan, adminitrasi, dan penyaluran barang. Selain itu baik Supply
Chain Management maupun manajemen logistic juga memiliki kesamaan dalam hal
peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan barang. Perbedaan Supply
Chain Management dengan manajemen logistic terletak pada orientasinya. Supply
Chain Management mengusahakan hubungan dan koordinasi antar proses dari
perusahaan-perusahaan lain dalam business pipelines, mulai dari suppliers
sampai kepada pelanggan juga mengutamakan arus barang antar perusahaan, sejak
paling hulu sampai paling hilir. Sedangkan manajemen logistic berorientasi pada
perencanaan dan kerangka kerja yang menghasilkan rencana tunggal arus barang
dan informasi di seluruh perusahaan, jadi lebih terfokus pada pengelolaan
termasuk arus barang dalam perusahaan.
Evolusi
SCM
Dalam
perkembangannya, Supply Chain Management telah banyak mengalami evolusi yang
dapat digambarkan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut (Indrajit dan
Djokopranoto, 2002) :
1.
Tahap 1
Dalam tahap 1 ada semacam kesendirian dan ketidak-saling
tergantungan fungsi produksi dan fungsi logistic. Mereka menjalankan
program-program sendiri yang terlepas satu sama lain (in-complete isolation).
Contohnya adalah bagian produksi yang hanya memikirkan bagaimana membuat barang
sesuai dengan mutu dan yang telah ditetapkan, dan sama sekali tidak mau ikut
memikirkan penumpukan inventory dan penggunaan ruang gudang yang menimbulkan
biaya persediaan yaitu biaya simpan.
2.
Tahap 2
Dalam tahap 2 perusahaan sudah mulai menyadari
pentingnya integrasi perencanaan walaupun dalam bidang yang masih terbatas, yaitu
di antara fungsi internal yang paling
berdekatan, misalnya produksi dengan inventory control dan functional
integration yang lain.
3.
Tahap 3
Dalam tahap 3 integrasi perencanaan dan
pengawasan atas semua fungsi yang terkait dalam satu perusahan (internal
integration).
4.
Tahap 4
Pada tahap 4 menggambarkan tahap sebenarnya
dari suplly chain integration, yaitu integrasi total dalam konsep perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan (manajemen) yang telah dicapai dalam tahap 3 dan
diteruskan ke upstreams yaitu suppliers dan downsterams sampai ke pelanggan.
Evolusi Supply Chain Management yang
telah mencapai tahap keempat tersebut menunjukkan suatu integrasi yang
menyeluruh di antara seluruh komponen terkait sehingga menuntut adanya
transparansi arus informasi. Strategi kemitraan dapat digunakan untuk
mewujudkan kelancaran arus pasokan material dari pemasok sampai distributor
hingga ke tangan konsumen. Dengan startegi kemitraan maka perlu mengembangkan
komunikasi di antara semua pihak terkait, sehingga komunikasi arus informasi
maupun data yang dibutuhkan akan lebih lancar.[2]
Kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam area SCM
apabila mengacu pada sebuah perusahaan manufaktur, kegiatan-kegiatan utama yang
masuk dalam klasifikasi SCM adalah
-
Kegiatan merancang produk baru (product development)
-
Kegiatan mendapatkan bahan baku (procurement, purchasing, atau
control)
-
Kegiatan merencanakan produksi dan
persediaan (planning &
control)
-
Kegiatan melakukan produksi (production)
-
Kegiatan melakukan pengiriman /
distribusi (distribution)
-
Kegiatan pengelolaan pengembalian produk
/ barang (return)
Keenam klasifikasi tersebut biasanya tercermin dalam bentuk
pembagian departemen atau divisi pada perusahaan manufaktur. Pembagian tersebut
sering dinamakan functional division karena mereka dikelompokkan sesuai
dengan fungsinya. Umumnya sebuah perusahaan manufaktur akan memiliki bagian
pengembangan produk, bagian pembelian atau bagian pengadaan (dalam bahasa
Inggrisnya bisa disebut purchasing, procurement, atau supply function),
bagian produksi, bagian perencanaan produksi (sering dinamakan bagian Production
Planning and Inventory Control, PPIC), dan bagian pengiriman atau ditribusi
barang jadi. Tabel berikut menguraikan lebih lanjut beberapa contoh kegiatan
yang biasanya dilakukan oleh masing-masing bagian.[3]
Bagian
|
Cakupan kegiatan antara lain
|
Pengembangan Produk
|
Melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan supplier
dalam perancangan produk baru
|
Pengadaan
|
Memilih supplier, mengevaluasi kinerja supplier, melakukan
pembelian bahan baku dan komponen, memonitor supply risk, membina dan
memelihara hubungan dengan supplier
|
Perencanaan & Pengendalian
|
Demand planning, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perencanaan
produksi dan persediaan
|
Operasi / Produksi
|
Eksekusi produksi, pengendalian kualitas
|
Pengiriman / Distribusi
|
Perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan pengiriman, mencari
dan memelihara hubungan dengan perusahaan, jasa pengiriman, memonitor service
level di tiap pusat distribusi
|
B.
Customer & Supplier Relationship Management
Pengertian
mengenai CRM telah diberikan oleh beberapa ahli, misalnya:
1.
Buttle (2007) mengemukaan bahwa CRM adalah
strategi inti dalam bisnis yang mengintregrasikan proses-proses dan
fungsi-fungsi internal dengan semua jaringan eksternal untuk menciptakan serta
mewujudkan nilai bagi para konsumen sasaran secara profitabel.
2.
Jackson (1985) menyatakan CRM merupakan
pemasaran yang diorientasikan menuju hubungan yang kuat dan lestari dengan pelanggan.
3.
Sementara itu, Payne (2000) menyatakan bahwa
CRM berkaitan dengan penciptaan, pengembangan dan peningkatan hubungan
pelanggan yang diindividualisasikan dengan pelanggan secara cermat dan
menghasilkan pemaksimalan nilai pelanggan.
4.
Sedangkan definisi yang dikemukakan oleh Kotler
dan Armstrong (2004) CRM yaitu proses membangun dan mempertahankan hubungan
dengan konsumen yang menguntungkan dengan memberikan produk yang sangat
bernilai bagi konsumen dan membuat konsumen puas.
5.
Selanjutnya menurut Schiffman (2004) menekankan
bahwa CRM adalah cara perusahaan dalam membina relasi dengan para pelanggan
dengan tujuan memelihara kesetiaan dan komitmen pelanggan untuk tetap
menggunakan produk perusahaan yang bersangkutan.
Dari
definisi yang dikemukakan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa relationship
marketing dan CRM memiliki definisi yang hampir sama, yaitu (1) berpusat
pada hubungan penjual -pelanggan (2) hubungan tersebut sifatnya jangka panjang
dan (3) kedua pihak mendapat manfaat di dalam hubungan yang dibuat (simbosis
mutualisme). Sedangkan CRM dan konsep relationship marketing bisa dianggap
sebagai budaya atau nilai organisasional yang berbeda dengan menempatkan
hubungan pembeli-penjual di pusat pemikiran strategik atau operasional
perusahaan.
Walaupun
CRM dan relationship marketing memiliki kesamaan tetapi kedua konsep
tersebut juga memiliki perbedaan-perbedaan penting. Adapun perbedaan tersebut
adalah (1) relationship marketing adalah lebih bersifat strategik
sedangkan CRM digunakan di dalam pengertian yang lebih taktis; (2) relationship
marketing adalah relatif lebih bersifat emosional dan perilaku, terpusat
pada variabel-variabel misalnya ikatan, empati, timbal balik, dan kepercayaan
sedangkan CRM lebih bersifat manajerial, difokuskan pada bagaimana manajemen
bisa membuat usaha-usaha yang padu di dalam menarik, memelihara dan
meningkatkan hubungan pelanggan; (3) relationship marketing tidak hanya sekedar
mencakup hubungan suplier-pelanggan tetapi meliputi pembangunan hubungan dengan
stakeholder, misalnya suplier, pegawai internal, pelanggan, dan bahkan
pemerintah sedangkan CRM lebih ditujukan
untuk membangun hubungan dengan para pelanggan kunci.
Dengan
mengimplementasikan CRM, dimaksudkan perusahaan menempuh cara untuk membina
relasi dengan pelanggan dengan tujuan memelihara kesetiaan dan komitmen
pelangan itu sendiri agar tetap menggunakan produk perusahaan tersebut. Dengan
menerapkan CRM pada hakekatnya perusahaan menyatakan bahwa pihaknya sudah
bersikap membangun kepuasan pada pelanggan, bersikap mengutamakan pelanggan,
berorientasi pada pelanggan, serta menyesuaikan diri dengan keinginan
pelanggan. Dalam pengimplementasian CRM ini akan menuntut terbangunnya kultur
di perusahaan, dimana kultur ini tercermin dalam perilaku yang merupakan bagian
perwujudan dari budaya perusahaan dan harus dilaksanakan dimulai dari pucuk
pimpinan sampai pegawai pada lini terbawah. Dengan terbangunnya kultur yang
berorientasi pada pelanggan tersebut, maka segala sumber daya yang ada akan
dialokasikan untuk mendukung semua langkah yang dapat meningkatkan nilai
perusahaan dimata pelanggan.[4]
Posisi pemasok dalam suatu perusahaan sangatlah penting, terutama
menyangkut pasokan produk di suatu perusahaan atau industri. Manajemen pemasok
menjadi sangat penting bagi perusahaan, terutama untuk memperoleh material atau
produk dan bahan baku berkualitas. Berbagai pendekatan teah dilakukan oleh
perusahaan. Salah satu pendekatan yang dilakukan Jepang didasari oleh adanya
hubungan kepercayaan dan saling menguntungkan (mutually cooperative)
antara pihak pemasok dan perusahaan.
The Balanced Scorecard yang diciptakan oleh Kaplan dan
Norton yang pertama kali dipublikasikan dalam Harvard Business Review
edisi Januari-Februari 1992, tidak memaparkan atau membahas perspektif pemasok.
European Foundation for Quality Management yang secara luas dinyakatan
sebagai model bisnis excellence yang dikenalkan pada tahun 1992 sebagai European
Quality Award, juga tidak mencantumkan komponen pemasok ke dalam sembilan enabler
dan dimensi hasil. Komponen pemasok juga tidak terdapat dalam kriteria kinerja excellence
pada Malcom Baldrige National Quality Award yang diciptakan pada tahun
1987, khususnya dalam membahas manajemen pemasok.
Ada 3 alasan yang mendasari mengapa pemasok harus dimasukkan dalam
rancangan permasalahan manajemen kinerja perusahaan atau organisasi. Pertama,
setiap kasus yang mengatur pemasok tidak dibahas dalam proses bisnis
internalnya. Kedua, konsep membangun hubungan baik dengan pemasok utama demi
meningkatkan efisiensi dan efektivitas melalui rantai pasok (supply chain),
yang dalam hal ini untuk menjaga efisiensi hubungan pemasok langsung, telah
menjadi tren akhir-akhir ini. Ketiga, pentingnya mengelola pemasok telah
menjadi hal yang sangat krusial untuk dibahas sejalan dengan tren strategi
kerjasama pengalihan (outsorce strategic partnership) selama dekade
terakhir.
Riset yang dilakukan oleh Cranfield dan Accenture
menunjukkan bahwa saat ini 52% perusahaan mengukur kontribusi pemasoknya,
tetapi di antara perusahaan yang belum mengukur kinerja pemasok, 83% percaya
bahwa mereka harus melakukannya. Hanya 30% responden hasil survei mengaku telah
mengukur kepuasan pemasoknya tetapi dari 30% perusahaan yang telah melakukan
pengukuran tersebut, 77% tidak percaya bahwa mereka harus mengkur kontribusi
pemasok. Jadi, dalam perusahaan yang telah melakukan pengukuran manajemen
hubungan dengan pemasok terjadi bias antara kepentingan perusahaan dan
ketertarikan perusahaan pada aspek lain seperti perbedaan harga, ketepatan
pengiriman, kualitas dan pelayanan, serta lain sebagainya. perhatian yang
diberikan pada faktor-faktor seperti apakah pemasok telah dibayar tepat waktu,
jumlah transaksi yang telah dilakukan bersama pemasok, atau benefit dari
inisiatif kerjasama yang saling menguntungkan sangatlah minim.
Dalam mengatur hubungan dengan pemasok, terdapat kecenderungan
seperti keinginan dan kebutuhan perusahaan untuk mendominasi keinginan serta
kebutuhan pemasok. Perusahaan ingin pemasoknya menyediakan produk dan jasa
dengan cepat, berkualitas, murah, dan mudah. Pemasok dan joint venture
membutuhkan umpan balik dari perusahaan atau organisasi mengenai pendapatnya
dalam bentuk opini tentang seberapa baik mereka bekerjsama, sehingga dapat
memperbaiki dan meningkatkan kerjasama tersebut. Pemasok dan joint venture
ingin dipercaya oleh pihak lain dan dapat membagi informasi penting yang saling
menguntungkan. Pemasok dan joint venture ingin agar hubungan kerja itu
memungkinkannya mendapatkan keuntungan dan mengembangkan bisnis.
Beberapa strategi generik yang umum digunakan dalam mengatur
hubungan pemasok dan partner aliansi adalah:
1.
Meningkatkan kinerja pemasok dengan membuat persetujuan pencapaian
tingkat layanan (service level), serta memonitor kinerja kualitas
produk, pelayanan pengiriman, dan penerapan akreditasi formal (proses audit).
2.
Mengoptimalkan biaya pengadaan (optimize procurement cost)
dengan menelusuri pencapaian total akuisisi cost saving melalui
inisiatif pengembangan kapabilitas seperti implementasi pelelangan via internet
manajemen persediaan penjual (vendor managed inventories), sisstem
penagihan otomatis (self-billing), atau outsourcing sebaik negosiasi
pembelian yang dilakukan secara reguler.
3.
Memapankan aliansi atau joint venture di mana permalan dan
data kebutuhan dibagi dengan pemasok melalui perubahan data secara elektronik
atau sistem perencanaan yang kolaboratif dan pendefinisian modus operandi joint
venture.
4.
Menentukan tujuan dan hasil yang diinginkan dengan mengukur kemajuan
dan pencapaian yang telah diselesaikan, apakah dapat memenuhi tujuan.
Untuk memenuhi kepuasan pemasok menyangkut kebutuhan dan keinginan,
beberapa perusahaan melakukan survei secara periodik guna mengetahui pandangan
pemasok mengenai hubungan yang sedang berlangsung dan bagaimana memperbaikinya
di masa depan. Kebutuhan dan keinginan pemasok serta partner aliansi utama sama
pentingnya dengan pemangku kepentingan utama (investor, pemerintah, masyarakat,
dan pegawai) untuk didengar daam membuat keputusan strategis. Ketika pemasok
dan partner aliansi memberikan saran perbaikan, maka dalam pelaksanaannya harus
tetap dimonitor.
Metodologi pengukuran dalam bidang manajemen rantai pasok (Supply
Chain Management) diperlukan untuk memenuhi kepuasan kedua belah pihak,
baik perusahaan atau organisasi maupun pemasok. Metodologi untuk mengatur
kinerja pemasok di antaranya adalah first point assessment, yang
dikembangkan untuk mengevaluasi kinerja pada industri petrokimia. Metodologi
ini meliputi 3 laporan yang saling terintegrasi yakni:
1.
Kinerja pemasok: melaporkan kinerja pemasok selama pengiriman
produk atau jasa kepada perusahaan atau organisasi.
2.
Kinerja produk dan pelayanan: melaporkan kinerja pelayanan yang
sedang berlangsung dari produk ke peralatan setelah beroperasi selama periode
tertentu.
3.
Kinerja pengadaan (pembeli): melaporkan bagaimana pembeli mendukung
pemasok selama persediaan produk atau jasa tersedia. Laporan ini akan mengolah
isu seperti kejelasan spesifikasi, efisiensi proses tender, efektivitas komunikasi,
dan lainnya.
Indikator kinerja perusahaan yang harus dikelola dengan baik yang
berkaitan dengan pengelolaan pemasok, antara lain meliputi:
1.
Jumlah pemasok
Dalam kebanyakan perusahaan atau organisasi, pengukuran indikator
jumlah pemasok merupakan suatu ukuran yang penting bagi perkembangan memperoleh
material atau produk dan bahan baku berkualitas. Pengurangan jumlah pemasok
dapat meningkatkan kegiatan pengawasan yang pada gilirannya dapat menjaga pasokan
produk serta layanan ke perusahaan atau organisasi sehingga menjadi lebih fokus
dan dapat mengatur masing-masing pemasok untuk bekerja lebih efektif serta
efisien. Mengurangi jumlah pemasok dapat mempermudah pasokan logistik sehingga
dapat meningkatkan nilai bisnis dengan pemasok yang ada, di mana hal itu juga
dapat meningkatkan komitmen mereka kepada perusahaan atau organisasi
bersangkutan.
2.
Pembayaran tepat waktu kepada pemasok
Kebanyakan pemasok mempertimbangkan waktu pembayaran sebagai
penentu keputusan hubungan mereka dengan perusahaan atau organisasi. Indikator
pembayaran tepat waku pada pemaasok menggambarkan usaha untuk meningkatkan
hubungan perusahaan atau organisasi dengan pemasok.
3.
Gambaran masa depan yang diberikan kepada pemasok
Gambaran masa depan meberikan infromasi kepada pemasok mengenai
jumlah atau nilai kebutuhan produk atau jasa di masa yang akan datang pada
suatu perusahaan atau organisasi. Semakin cepat pemasok diberi informasi
mengenai kebutuhan pasokan di masa depan, semakin mudah mereka memenuhinya
sehingga meningkatkan kepuasan pemasok serta mempermudah perusahaan mencapai
kesepakatan dengan pemasok.
4.
Peningkatan pesanan pemasok kepada perusahaan atau organisasi
Jumlah belanja prosuk atau jasa dan proporsi pemesanan perusahaan
kepada pemasok akan berkontribusi pada peningkatan kepuasan pemasok, dan
mengindikasikan bahwa perusahaan berkomitmen serta percaya untuk membeli dari
pemasok tersebut.
5.
Tingkat kerjasama antara pemasok dan perusahaan atau organisasi
Hal ini mengacu pada peningkatan proses bisnis yang saling
menguntungkan. Seringkali mereka bekerjasama dalam hal pengembangan produk,
perbaikan proses ataupun aktivitas pengalihan.
6.
Alternatif jumlah pemasok
Kinerja pemasok yang ddikuti oleh perusahaan dapat meningkatkan
kepuasan pemasok karena mengindikasikan komitmen perusahaan untuk membeli
produk atau jasa dari pemasok tersbeut. Oleh karena itu, pengurangan jumlah
pemasok alternatif juga mencerminkan kepuasan perusahaan terhadap pemasok yang
tetap dipertahankan tersebut. Komitmen ini sangat penting dan menjadi dasar
untuk lebih mendekatkan hubungan kerja antara perusahaan dan pemasok yang
saling menguntungkan. Meskipun demikian, hampir semua perusahaan menghindari
ketergantungan pada satu pemasok dan biasanya mengambil dua atau beberapa
pemasok.
7.
Stabilitas perencanaan atau penjadwalan
Hal ini mencerminkan akurasi perusahaan dalam memprediksikan
kebutuhan masa depannya. Pemasok hanya akan bisa merencanakan aktivitas di masa
mendatang jika sudah yakin bahwa jadwal yang dibuat akurat. Karenanya,
diperlukan pembuatan jadwal yang akurat agar pemasok dapat lebih efektif
merencakan peningkatan efektivitas dan efisiensi operasinya.
8.
Stabilitas hubungan antara pemasok dan perusahaan
Stabilitas hubungan antara pemasok dan perusahaan mencerminkan
pengembangan hubungan jangka panjang yang erat. Hubungan yang stabil di antara
keduanya akan meningkatkan kepastian perencanaan yang akan dibuat.
9.
Kepuasan pemasok
Jika menginginkan peningkatan hubungan jangka panjang yang erat
antara pemasok dan perusahaan, kepuasan pemasok harus ditingkatkan.
Meningkatnya kepuasan pemasok akan meningkatkan kesediaan mereka dalam emmenuhi
kebutuhan perusahaan dan dapat pula meningkatkan kinerjanya. Peningkatan
kepuasan pemasok akan mendorong mereka untuk menyetujui kontrak jangka panjang
yang saling menguntungkan.[5]
C.
Customer Service Management
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kepercayaan pelanggan, setiap
perusahaan perlu menjaga citra positif produk dan perusahaan di mata pelanggan
atau masyarakat umumnya. Citra ini dapat dibangun melalui kualitas produk,
kualitas pelayanan, dan jaminan keamanan. Tanpa citra yang positif, kepercayaan
yang sedang dan akan dibangun tidak akan efektif. Untuk meningkatkan citra
perusahaan, wirausahawan perlu menyiapkan sumber daya manusia (karyawan) yang
mampu menangani keinginan dan kebutuhan pelanggan. Karyawan yang diharapkan
dapat melayani keinginan dan kebutuhan pelanggan ini kita sebut Customer
service (CS) atau ada juga yang menyebutnya service assistence (SA).
Customer service secara umum adalah setiap kegiatan yang ditujukan untuk memberikan
kepuasan pelanggan melalui pelayanan yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan
pelanggan. Customer service memegang peranan sangat penting sebagai
ujung tombak perusahaan dalam menghadapi pelanggan. Dalam dunia bisnis tugas
utama seorang CS memberikan pelayanan dan membina hubungan dengan masyarakat. Customer
service perusahaan dalam melayani para pelanggannya selalu berusaha menarik
dengan cara merayu para calon pelanggan menjadi pelanggan yang bersangkut
dengan berbagai cara. CS juga harus dapat menjaga pelanggan lama agar tetap
menjadi pelanggan perusahaan. Oleh karena itu, tugas Customer service merupakan
tulang punggung kegiatan operasional dalam dunia bisnis.
Pada prinsipnya semua atau seluruh pegawai, mulai dari cleaning
service, satpam, sampai pada direktur utama harus harus menjadi costumer
service. Dalam menjalan kan fungsi dan tugasnya, seseorang costumer service
harus benar-benar memahaminya sehingga dapat menjalankan tugasnya secara prima.
Fungsi customer service yang
harus dijalankan setiap waktu adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai resepsionis
Sebagai resepsionis, CS berfungsi sebagai penerima tanu yang datang
ke perusahaan. Tamu di sini bisa siapa saja, entah pelanggan, calon
pelanggan,supplier, atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.
2.
Sebagai Deskman
Seorang CS berfungsi sebagai orang yang melayani berbagai macam
aplikasi (permohonan) yang diajukan pelanggan atau calon pelanggan. Permohonan
mulai dari pengisian formulir samapai dengan kelengkapan data yang dibutuhkan
atau yang dipersyaratkan.
3.
Sebagai Salesman
Sebagai salesman, CS merupakan seorang yang menjual produk kepada
pelanggan atau calon pelanggan. Dalam hal ini CS harus dapat menjelaskan segala
sesuatu yang berkaitan dengan produk.
4.
Sebagai Customer Relation Officer
Sebagai customer relation officer, CS berfungsi sebagai orang yang
membina hubungan baik dengan seluruh pelanggan, termasuk merayu atau membujuk
agar pelanggan tetap bertahan, tidak lari dari perusahaan yang bersangkutan
apabila menghadapi masalah.
5.
Sebagai Komunikator
Sebagai komunikator, CS merupakan penghubung antara perusahaan
dengan pelanggan atau pihak lain yang berkepentingan terhadap perusahaan. Dalam
hal ini fungsi CS adalah menghubungi pelanggan dan memberikan informasi tentang
segala sesuatu yang ada hubungannya antara perusahaan dan pelanggan.
Disamping memiliki fungsi seperti di atas, CS juga memiliki tugas
sesuai dengan fungsi CS tersebut. Adapun tugas-tugas Customer service yang
sesuai dengan fungsinya adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai Resepsionis
Sebagai resepsionis CS bertugas menerima tamu yang datang ke
perusahaan dengan ramah-ramah, sopan, tenang, simpatik, menarik, dan menyenangkan.
Dalam hal ini CS harus bersikap selalu memberi perhatian, berbicara dengan
suara yang lembut dan jelas.
2.
Sebagai Deskman
Sebagai deskman tugas CS antara lain memberikan informasi mengenai produk-produk
perusahaan, menjelaskan manfaat dan ciri-ciri produk, menjawab pertanyaan
pelanggan mengenai produk serta membantu pelanggan yang membutuhkan
pertolongan, seperti mengisi formulir.
3.
Sebagai Salesman
Sebagai salesman tugas CS adalah menjual produk, merupakan cross selling, mengadakan
pendekatan dan mencari pelanggan baru, berusaha membujuk pelanggan yang baru
dan berusaha mempertahankan pelanggan yang lama, serta berusaha mengatasi
setiap permasalahn yang dihadapi pelanggan, termasuk keberatan dan keluhan
pelanggan.
4.
Sebagai Customer Relation Officer
Sebagai Customer Relation Officer tugas seorang CS adalah menjaga
image atau citra perusahaan. Tugas detailnya adalah membina hubungan baik
dengan seluruh pelanggan. Tugas terpenting adalah sebagai penghubung antara
perusahaan dengan seluruh pelanggan,
5.
Sebagai komunikator
Sebagai komunikator tugas CS adalah memberikan segala informasi dan
kemudahan-kemudahan kepada pelanggan. Di samping itu, juga sebagai tempat
menampung keluhan, keberatan, atau konsultasi berbagai hal yang ada kaitannya
dengan produk atau perusahaan secara keseluruhan.[6]
D.
Demand Management
Demand management adalah upaya untuk membuat permintaan lebih mudah
dipenuhi oleh supply chain. Secara lebih spesifik bisa dikatakan bahwa demand
management adalah upaya untuk secara aktif meyakinkan bahwa profil perrmintaan
pelanggan memiliki pola yang halus sehingga mudah dan efisien untuk dipenuhi.
Dengan kata lain, kalau peramalan hanya melihat bahwa input yang sudah ‘given’,
demand management melihat bahwa input tersebut harus diubah polanya terlebih
dahulu sebelum masuk ke proses peramalan, perencanaan produksi, pengadaan bahan
baku, produksi, dan pengiriman ke pelanggan.
Mengelola permintaan berarti mengubah pola permintaan sehingga
memiliki pola yang lebih menguntungkan bagi supply chain. Ada beberapa cara
yang bisa digunakan oleh supply chain untuk mempengaruhi pola permintaan, cara-cara
berikut ini hanya kan efektif digunakan apabila perusahaan memahami dengan baik
perilaku pembeli / pelanggan terhadap pemberlakuan masing-masing cara ini. Cara-cara
tersebut antara lain:
a.
Promosi
Kegiatan promosi bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya
melalui iklan di media cetak maupun media elektronik. Kegiatan promosi sudah
teruji efektivitasnya untuk meningkatkan volume penjualan selama periode
tertentu. Promosi pada saat-saat tertentu membuat volume permintaan meningkat
baik segera setelah promosi dilakukan ataupun secara perlahan dan terjadi
beberapa lama setelah periode promosi mulai. Bagi supply chain, kegiatan
promosi bisa membuat pola permintaan lebih mudah atau lebih sulit untuk dipenuhi.
Jika promosi dilakukan pada saat-saat permintaan lesu dan efek
promosi relatif cepat terhadap reaksi pasar, maka supply chain akan mendapatkan
pola permintaan yang lebih rata. Sebaliknya, jika promosi justru dilakukan pada
saat permintaan memang tinggi, supply chain justru akan menghadapi permintaan
yang lebih fluktuatif. Sebagai contoh, penjualan kartu ucapan natal dan tahu
baru akan tinggi pada minggu ke-2 atau ke-3 bulan Desember. Jika promosi
dilakukan oleh suatu perusahaan pada bulan Desember, justru permintaan akan
meningkat pada bulan tersbeut sehingga perbedaan penjualan pada bulan Desember
dan bulan-bulan lain justru akan lebih tinggi. sebaliknya, jika promosi
dilakukan pada bulan Agustus, September, Oktober misalnya, volume penjualan
pada bulan-bulan tersebut akan meningkat baik karena sebagian orang membeli
kartu ucapan dua bulan atau tiga bulan lebih awal. Kalau ini yang terjadi,
pemrintaan kartu secara total akan meningkat pada bulan-bulan sebelum Desember
dan kemungkinan menurun pada bulan Desember..
b.
Pricing
Kebijakan harga sebenarnya juga bisa diklasifikasikan sebagai
bagian dari instrumen promosi. Namun, kebijakan pricing bisa memiliki tujuan
yang lebih luas dari sekedar promosi. Comtohnya, tarif telepon yang lebih mahal
di siang hari dibandingkan dengan waktu malam hari adalah cara untuk
memindahkan sebagian beban jaringan yang memang sibuk pada siang hari ke malam
hari. Potongan harga yang diberikan untuk produk-produk yang tidak terjual pada
akhir musim jual (seperti pakaian, produk-produk elektronik, dan lain-lain)
menyebabkan biaya-biaya persediaan menurun, namun terkadang juga membuat orang
menunda keputusan pembelian ke akhir musim jual untuk mendapatkan diskon yang
berarti mennimbulkan dampak negatif bagi supply chain.
c.
Shelf management
Posisi dan cara penempatan suatu barang di supermarket sering kali
berpengaruh terhadap penjualan barang tersebut. Barang yang letaknya
tersembunyi, walaupun sebenarnya menarik bagi banyak konsumen, tidak akan
banyak laku karena tidak terlihat oleh calon-calon pembeli. Oleh karena itu,
produk yang baru diluncurkan atau yang sedang punya program peningkatan
penjualan, biasanya ditempatkan di tempat-tempat yang terlihat jelas oleh para
pengunjungnya.
d.
Deal structure
Deal structure ini meliputi persetujuan jual beli seperti boleh
tidaknya produk dikembalikan, term pembayaran, perlindungan harga, garansi, dan
sebagainya. bisa tidaknya produk dikembalikan apabila tidak sesuai dengan
keinginan konsumen akan meningkatkan volume penjuala, namun penjual akan
menanggung biaya pengembalian yang lebih tinggi. Term pembayaran juga
mempengaruhi keputusan pembeli. Pembayaran yang bisa ditunda beberapa lama
setelah barang diambil tentu akan lebih manerik dibandingkan dengan persyaratan
pembayaran langsung ketika barang diambil oleh pembeli.[7]
E.
Pengembangan Produk dan Komersialisasi
Kebanyakan organisasi bisnis yang berhasil mencapai tujuannya
karena mereka selalu berusaha untuk memberikan produk atau jasa yang ditawarkan
sesuai dengan keinginan pelanggan. Pengembangan produk (product develompent)
pada dasarnya adalah upaya perusahaan untuk senantiasa menciptakan produk baru,
memperbaiki atau memodifikasi produk lama agar dapat memenuhi tuntutan pasar
dan selera pelanggan. Toffler memprediksi bahwa akan terjadi peningkatan
macam produk untuk barang jenis tertentu. Dari hari ke hari diprediksikan jenis
produk akan meningkat, konsumen akan banyak pilihan dan akan cepat bosan dengan
produk karena banyaknya bermunculan produk-produk baru. Oleh karena itu,
diperlukan kejelian dan kejeniusan dalam memenuhi pelanggan dengan melakukan
pengembangan produk.
Perusahaan yang melakukan stategi bisnis product differentation
menuntut inovasi produk untuk dapat menciptakan dan mengembangkan produk sesuai
dengan permintaan pasar. Inovasi produk akan muncul apabila perusahaan mempunyai
misi operasi sesuai dengan permintaan pasar. Keputusan yang diambil selama
tahap pengembangan produk akan berpengaruh pada keseluruhan organisasi dalam
jangka panjang. Tanpa pengembangan produk dapat menimbulkan ketidakpuasan
pelanggan dan pada akhirnya dapat berakibat penurunan penjualan.
Pengembangan produk tidak dapat dipisahkan dari konsep daur hidup
produk (product life cycle). Produk yang baik dapat dikatakan selalu
melalui tahapan perancangan, produksi, diterjunkan ke pasar dan kemudian
melewati tahap siklus daur hidup mulai dari perkenalan, pertumbuhan,
kematangan, kejenuhan, lalu akhirnya merosot dan mati untuk digantikan oleh
produk-produk baru sebagai hasil pengembangan yang lebih dapat memuaskan
kebutuhan pelanggan. Dalam era sekarang ini terdapat beberapa kecenderungan
yang mungkin terjadi di bidang pengembangan produk, yaitu:
1.
Proses pengembangan produk yang lebih baik, lebih canggih, lebih
berkualitas, lebih murah dibandingkan dengan produk sebelumnya sebagai akibat
perubahan yang begitu cepat dalam bidang teknologi.
2.
Pengembangan produk dalam era sekarang ini dituntut untuk menjadi
unggulan daya saing.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong perusahaan perlu melakukan
strategi pengembangan produk dalam menghadapi era globalisasi, yakni:
a.
Perubahan selera konsumen
b.
Keinginan untuk menekan biaya (efisiensi)
c.
Keinginan untuk meningkatkan kualitas produk
d.
Kemerosotan kinerja perusahaan (menurunnya omzet penjualan dan
pasaran produk kurang berkembang)
e.
Melemahnya bargaining position dalam menghadapi para
supplier bahan baku
f.
Pesaing semakin kuat
g.
Perubahan teknologi
h.
Usia produk semakin pendek
Dalam menyusun strategi pengembangan produk saaai ini, produsen
dihadapkan pada berbagai tantangan antara lain seperti:
1.
Makin terbatasnya gagasan-gagasan tentang produk baru karena
cepatnya perubahan tuntutan pasar tidak dapat selalu diimbangi dengan munculnya
gagasan-gagasan produk baru.
2.
Pasar yang semakin terkotak-kotak (fregmentation markets)
karena persaingan semakin tajam sehingga mengakibatkan pasar semakin sempit.
Perusahaan umumnya hanya mampu mengarahkan produk barunya untuk segmen pasar
tertentu.
3.
Hambatan sosial dan peraturan pemerintah karena produk baru
dituntut untuk lebih memenuhi persyaratan keamanan konsumen dan pencemaran
lingkungan hidup.
4.
Biaya pengembangan produk yang mungkin semakin tinggi.
5.
Usia produk yang semakin singkat karena biasanya apabila suatu
produk sukses di pasar, pasar pesaing berlomba-lomba meniru dan menawarkan
harga yang lebih murah, sehingga rata-rata produk baru yang sukses hanya dapat
menikmati masa puncak yang relatif singkat.
Di samping tantangan tersebut, pengembangan produk baru masih
dibayangi oleh risiko kegagalan tidak hanya ketika produksi tapi ketika produk
dikenalkan ke pasar. Kegagalan sebagian besar produk baru disebabkan antara
lain oleh keinginan yang dipaksakan, kurangnya penelitian pasar, kekeliruan
dalam memprediksi daya serap pasar, kurangnya promosi, harga terlalu tinggi,
atau bahka disebabkan oleh ulah para pesaing yang melakukan praktek ilegal
dengan melakukan imitasi produk. Untuk mengatasi tantangan tersebut serta
mencegah kenmungkinan terjadinya kegagalan strategi pengembangan produk baru
harus diruuskan sejalan dengan strategi pemasaran perusahaan jangka panjang dan
bukan keputusan yang mendadak.
Dalam menetapkan stategi pengembangan produk, terdapat empat macam
pendekatan yang dapat ditempuh, yaitu:
1.
Modifikasi bauran produk dalam satu lini
2.
Perluasan lini atau pertambahan lini
3.
Meningkatkan citra dan manfaat produk, misalnya dengan menerbitkan
buku resep seingga manfaat produk bertambah bagi konsumen
4.
Menciptakan produk baru atau produk sekelas konsumen lain, misalnya
setingkat lebih rendah atau setingkat lebih tinggi.
Secara garis besar, prosedur pengembangan produk terdiri atas
tahapan sebagai berikut:
1.
Pengembangan gagasan
2.
Penyaringan gagasan agar benar-benar dapat diwujudkan.
3.
Pengembangan dan uji konsep.
4.
Analisis bisnis
5.
Pengembangan dan uji produk
6.
Strategi pemasaran produk
7.
Uji pasar
8.
Pengenalan pasar[8]
Setelah pengujian selesai dilakukan, perusahaan siap untuk
memperkenalkan produk ke pasar target secara penuh dan sesuai dengan langkan
pengenalan siklus hidup induk. Oleh karena itu, setelah perencanaan matang,
dilaksanakan, dan diuji maka akhirnya dibuat produksi besar-besaran yang
membutuhkan modal investasi cukup besar. Maka perusahaan mulai melansir produk
baru di pasar, yang akan menjalani proses kehidupan sebagai suatu produk baru
sampai kepada tahap proses adopsi oleh pihak konsumen, dapat menimbulkan
kepuasan bagi konsumen, dan mendatangkan keuntungan bagi produsen. Tahap ini
merupakan tahap komersialisasi.[9]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di
atas, dapat diketahui bahwa SCM merupakan singkatan dari Supply
Chain Management yakni metode, alat, atau pendekatan pengelolaan
dari supply chain. Supply chain sendiri merupakan jaringan
perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan
menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.
Lalu, dalam SCM terdapat pula CRM (Customer
Relationship Management) dan Supplier Relationship Management. Yang
mana, dengan mengimplementasikan CRM, dimaksudkan perusahaan menempuh cara
untuk membina relasi dengan pelanggan dengan tujuan memelihara kesetiaan dan komitmen
pelangan itu sendiri agar tetap menggunakan produk perusahaan tersebut.
Manajemen pemasok menjadi sangat penting bagi perusahaan, terutama untuk
memperoleh material atau produk dan bahan baku berkualitas.
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kepercayaan
pelanggan, setiap perusahaan perlu menjaga citra positif produk dan perusahaan
di mata pelanggan atau masyarakat umumnya. Untuk meningkatkan citra perusahaan,
wirausahawan perlu menyiapkan sumber daya manusia (karyawan) yang mampu
menangani keinginan dan kebutuhan pelanggan. Karyawan yang diharapkan dapat
melayani keinginan dan kebutuhan pelanggan ini kita sebut Customer service (CS).
Demand management adalah upaya untuk membuat
permintaan lebih mudah dipenuhi oleh supply chain. Selain itu, ebanyakan
organisasi bisnis yang berhasil mencapai tujuannya karena mereka selalu
berusaha untuk memberikan produk atau jasa yang ditawarkan sesuai dengan
keinginan pelanggan. Pengembangan produk (product develompent) pada
dasarnya adalah upaya perusahaan untuk senantiasa menciptakan produk baru,
memperbaiki atau memodifikasi produk lama agar dapat memenuhi tuntutan pasar
dan selera pelanggan.
Daftar Pustaka
Alma,
Buchari. 2014. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung:
Alfabeta.
Kasmir.
2008. Kewirausahaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pujawan,
I Nyoman dan Mahendrawati. 2010. Supply Chain Management. Surabaya: Guna
Widya.
Wibisono,
Dermawan. 2011. Manajemen Kinerja Korporasi dan Organisasi: Panduan
Penyusunan Indikator. Jakarta: Erlangga.
Yamit,
Zulian. 2003. Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta: Ekonisia.
Widyarto,
Agus. “Peran Supply Chain Management Dalam Sistem Produksi
dan Operasi Perusahaan”, Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol. 16, No. 2 Desember
2012, publikasiilmiah.ums.co.id (4
November 2016)
Chadhiq, Umar. “Customer Relationship Management (CRM): Pilihan Strategi Untuk Meraih Keunggulan
Bersaing”, Jurnal
Vol. 18
No. 33 2011 ejurnal.stiedharmaputra-smg.ac.id
(4 November 2016)
[1] I Nyoman Pujawan dan Mahendrawati, Supply Chain Management
(Surabaya: Guna Widya, 2010), 7-8.
[2] Agus Widyarto, “Peran Supply Chain Management Dalam Sistem
Produksi dan Operasi Perusahaan”, Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol. 16, No. 2
Desember 2012, publikasiilmiah.ums.ac.id (4
November 2016)
[3] Pujawan dan Mahendrawati, Supply Chain Management, 9-10.
[4] Umar Chadhiq, “Customer
Relationship Management (CRM) : Pilihan Strategi Untuk Meraih
Keunggulan Bersaing”, Jurnal Vol. 18 No. 33 2011, ejurnal.stiedharmaputra-smg.ac.id
(4 November 2016)
[5] Dermawan Wibisono, Manajemen Kinerja Korporasi dan Organisasi:
Panduan Penyusunan Indikator (Jakarta: Erlangga, 2011), 84-100.
[6] Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2008), 275
[7] Pujawan dan Mahendrawati, Supply Chain Management, 96-98.
[8] Zulian Yamit, Manajemen Produksi dan Operasi (Yogyakarta:
Ekonisia, 2003), 34-40.
[9] Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (Bandung:
Alfabeta, 2014), 142.
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridhonya yang telah
memberikan saya kesempatan dan kesehatan untuk menyelesaikan laporan Supply Chain Management
(Scm). Shalawat dan salam saya curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW .
Dengan segala
keterbatasan, penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dorongan dari berbagai
pihak laporan ini tidak mungkin akan terwujud. Semoga bagi pembaca laporan Supply Chain Management (Scm) ini dapat
bermanfaat dan dapat menambahkan ilmu yang berguna untuk kita semua. Mungkin
laporan Supply Chain Management (Scm) ini jauh dari sempurna karena kesempurnaan itu
hanya milik Allah SWT. saya harap kritik dan saran yang
membangun dari pembaca laporan Peramalan Permintaan Pelanggan Mobil Mainan
Tamiya ini agar dapat mendekati suatu kesempurnaan.
Daftar Isi
Kata Pengantar........................................................................................................ ii
Daftar Isi................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
A.
Latar Belakang................................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah............................................................................................. 2
C.
Tujuan............................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 3
A. Definisi,
Konsep, Evolusi SCM....................................................................... 3
B. Customer
& Supplier Relationship Management.............................................. 10
C. Customer
Service Management........................................................................ 17
D. Demand
Management...................................................................................... 20
E. Pengembangan
Produk dan Komersialisasi ..................................................... 22
BAB III PENUTUP................................................................................................. 27
Kesimpulan................................................................................................................ 27
Daftar Pustaka......................................................................................................... 28
BAB
I
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang
Persaingan dalam industri pada era
sekarang ini semakin ketat. Salah satu hal yang membuat perusahaan bidang
industri bertahan adalah penyediaan produk yang tepat bagi konsumen di waktu
yang tepat, dan dalam biaya ekonomis. Sekarang ini konsumen semakin kritis,
mereka menuntut penyediaan produk secara tepat tempat, tepat waktu. Sehingga
menyebabkan perusahaan manufaktur yang antisipatif akan hal ini akan mendapatkan
pelanggan sedangkan yang tidak antisipatif akan kehilangan pelanggan.
Ketersediaan
produk dan harga jual yang ekonomis hanya dapat terjadi jika ada koordinasi
yang baik antara perusahaan retail dengan pihak-pihak dalam rantai suplainya.
Koordinasi antara pihak-pihak dalam rantai suplai tidak hanya melibatkan
koordinasi persediaan saja, tetapi juga informasi tentang pasar yang berguna
bagi perencanaan perusahaan. Kekurangan persediaan produk pada distributor akan
berakibat kehilangan penjualan, sedangkan kelebihan tertentu akan berakibat
menumpuknya produk dan meningkatnya biaya pemeliharaan persediaan.
Selain
itu, koordinasi dengan toko-toko cabang sebagai salah satu mata rantai suplai
adalah penting, dimana kantor pusat dapat berbagi informasi dan mengumpulkan
informasi mengenai masing-masing supplier agar pengelolaan suplai dan
perencanaan penjualan produk dapat dilakukan dengan lebih baik. Pelaku industri
pun mulai sadar bahwa untuk menyediakan produk yang murah, berkualitas, dan
cepat, perbaikan di internal sebuah perusahaan manufaktur tidaklah cukup.
Kesadaran akan pentingnya peran semua pihak dalam menciptakan produk yang
murah, berkualitas, dan cepat inilah yang kemudian melahirkan konsep baru tahun
1990-an yaitu supply chain management (SCM).
Makalah
ini akan membahas mengenai supply chain management (SCM) dan hal-hal
lain yang berkaitan dengan rantai SCM yang menjadi satu solusi terbaik untuk
memperbaiki tingkat produktivitas antara perusahaan-perusahaan yang berbeda.
B.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana definisi, konsep dan
evolusi supply chain management (SCM)?
b.
Apa yang dimaksud dengan customer & supplier relationship management?
c.
Apa yang dimaksud dengan customer service
management Apa yang dimaksud dengan demand management?
d.
Apa yang dimaksud dengan demand management?
e.
Apa yang dimaksud dengan pengembangan produk
dan komersialisasi?
C.
Tujuan
a. Untuk mengetahui definisi, konsep dan evolusi supply chain
management (SCM).
b.
Untuk mengetahui customer & supplier
relationship management.
c. Untuk mengetahui customer service management Apa yang
dimaksud dengan demand management.
d. Untuk mengetahui demand management.
e. Untuk mengetahui pengembangan produk dan komersialisasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi, Konsep, Evolusi SCM
Definisi SCM
Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama
bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai
akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik,
distributor, toko atau ritel, serta perusahaan-perusahaan seperti perusahaan
jasa logistik. Lalu, istilah Supply Chain Management (SCM) adalah
metode, alat, atau pendekatan pengelolaan dari supply chain. Istilah SCM
pertama kali dikemukakan oleh Oliver & Weber pada tahun 1982.
Ada beberapa definisi tentang SCM. Misalnya, the Council of
Logistics Management memberikan definisi berikut:
Supply Chan Management is the systematic, strategic coordination of
the traditional business functions within a particular company and across
businesses within the supply chain for the purpose of improving the long term
performance of the individual company and the supply chain as a whole.
Jadi, Supply Chain Management tidak hanya berorientasi pada
urusan internal sebuah perusahaan, melainkan juga urusan eksternal yang
menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner. Alasan diperlukannya
koordinasi dan kolaborasi antar perusahaan pada supply chain adalah dikarenakan
perusahaan-perusahaan yang berada pada ustau supply chain pada intinya ingin
memuaskan konsumen akhir yang sama, mereka harus bekerjasama untuk membuat
produk yang murah, mengirimkannya tepat waktu, dan dengan kualitas yang bagus.
Hanya dengan kerjasama antara elemen-elemen supply chain, tujuan tersebut akan
bisa dicapai.
Semangat kolaborasi dan koordinasi juga didasari oleh kesadaran
bahwa kuatnya sebuah supply chain tergantung pada kekuatan seluruh elemen yang
ada di dalamnya. Sebuah pabrik yang sehat dan efisien tidak akan banyak berarti
apabila suppliernya tidak mampu menghasilkan bahan baku yang berkualitas atau
tidak mampu memenuhi pengiriman tepat waktu. Jadi, dalam supply chain, pabrik
perlu memberikan bantuan teknis dan manajerial terhadap supplier-suppliernya
karena pada akhirnya ini akan menciptakan kemampuan bersaing keseluruhan supply
chain.
Dari definisi tersebut, dapat dilihat bahwa semangat kolaborasi dan
koordinasi pada supply chain tidak mesti mengorbankan kepentingan tiap individu
perusahaan. SCM yang baik bisa meningkatkan kemampuan bersaing bagi supply
chain secara keseluruhan, namun tidak menyebabkan satu pihak berkorban dalam
jangka panjang. Oleh krena itu diperlukan pengertian, kepercayaan, dan aturan
main yang jelas. Misalnya, ketika suatu perusahaan mau membagi informasi secara
transparan, perusahaan partner harus menjaga informasi tersebut dari
pihak-pihak yang bisa menyalahgunakannya. Sangatlah penting untuk menjaga etika
bagi mereka yang menginginkan supply chain yang kuat dalam jangka panjang.[1]
Konsep SCM
Untuk dapat menawarkan produk yang menarik
dengan tingkat harga yang bersaing, setiap perusahaan harus berusaha menekan
atau mereduksi seluruh biaya tanpa mengurangi kualitas produk maupun standar
yang sudah ditetapkan. Salah satu upaya untuk mereduksi biaya tersebut adalah
melalui optimalisasi distribusi material dari pemasok, aliran material dalam
proses produksi sampai dengan distribusi produk ke tangan konsumen. Distribusi
yang optimal dalam hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep Supply
Chain Management. Supply Chain Management sesungguhnya bukan
merupakan suatu konsep yang baru. Menurut Turban, Rainer, Porter (2004),
terdapat 3 macam komponen rantai suplai, yaitu:
1.
Rantai Suplai Hulu (Upstream supply chain)
Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi
aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana
dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada
penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat
diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya
bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas
yang utama adalah pengadaan.
2.
Manajemen Rantai Suplai Internal (Internal Supply Chain Management) Bagian dari internal
supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan
dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran
organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di
dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi,
pabrikasi, dan pengendalian persediaan.
3.
Segmen Rantai Suplai Hilir (Downstream
supply chain segment) Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua
aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam
downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan,
transportasi, dan after-sales-service.
Menurut
Jebarus (2001) Supply Chain Management merupakan pengembangan lebih lanjut
dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini
menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari
supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas
antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas
yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut
berlangsung secara transparan. Supply Chain Management merupakan suatu
konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola
pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian,
jadual produksi, dan logistic.
Semua
perusahaan memerlukan sesuatu yang sangat ekonomis guna melakukan kegiatan
memproduksi untuk memperoleh keuntungan. Untuk mencapai keinginan tersebut,
kelancaran arus material yang diperlukan pasti melibatkan lebih dari satu rantai
pasokan. Faktor kritis dalam rantai pasokan yang efisien adalah pembelian,
karena tugas pembeliaan untuk menyeleksi pemasok (berikut materialnya) dan kemudian
membangun hubungan yang saling menguntungkan. Tanpa pemasok yang baik dan tanpa
pembelian yang memadai, rantai pasokan tidak akan memiliki peran untuk kondisi
pasar pada masa seperti sekarang ini. Supply Chain Management diperlukan
oleh perusahaan yang sudah mengarah pada pengelolaan dengan sistem just in
time, karena konsep just in time sangat menekankan ketepatan waktu kedatangan
material dari pemasok sampai ke tangan konsumen sesuai dengan yang ditetapkan.
Artinya, kedisiplinan dan komitmen seluruh mata rantai harus benar-benar
dilaksanakan, karena sistem just in time tidak menekankan pada persediaan atau zero
inventory. Sehingga apabila terjadi penyimpangan pada salah satu mata
rantai saja, maka akan mengganggu pasokan material secara keseluruhan dan
menghambat kelancaran tugas dari mata rantai yang lain, karena tidak adanya
persediaan.
Untuk
kondisi di Indonesia sistem just in time akan berhasil kalau mata rantai
terkait berada dalam satu cluster. Bagi perusahaan yang masih mementingkan
persediaan karena karakteristik material (misalnya faktor musiman) atau sebagai
langkah antisipatif untuk menyiasati lingkungan industri yang tidak stabil, Supply
Chain Management juga diperlukan. Peran Supply Chain Management
untuk jenis perusahaan ini adalah menekan biaya persediaan, karena persediaan
yang tidak optimal akan menimbulkan dampak biaya penyimpanan, biaya pemesanan,
dan biaya backorder (apabila terjadi stockout).
Baik
perusahaan yang menerapkan sistem just in time maupun yang masih mementingkan
persediaan, Supply Chain Management yang dilaksanakan akan lebih optimal
apabila diterapkan secara terintegrasi oleh seluruh mata rantai pasokan yang
terkait. Menerapkan konsep Supply Chain Management secara menyeluruh dan
terintegrasi tentu bukan merupakan hal yang mudah dilakukan perusahaan.
Kesulitan akan banyak dialami dalam kaitan dengan lingkungan eksternal yaitu
hubungan dengan supplier dan distributor serta konsumen akhir. Hal ini dapat
terjadi karena lingkungan eksternal relatif berada di luar kendali perusahaan,
sehingga perlu upaya kedua belah pihak untuk mencapai komitmen menjadi mata
rantai yang saling berkoordinasi untuk menyalurkan seluruh kebutuhan material
sesuai yang dibutuhkan.
Sekilas
konsep Supply Chain Management memiliki kesamaan dengan manajemen
logistic, karena keduanya mengelola arus baarang dan jasa melalui pembelian,
pergerakan, penyimpanan, adminitrasi, dan penyaluran barang. Selain itu baik Supply
Chain Management maupun manajemen logistic juga memiliki kesamaan dalam hal
peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan barang. Perbedaan Supply
Chain Management dengan manajemen logistic terletak pada orientasinya. Supply
Chain Management mengusahakan hubungan dan koordinasi antar proses dari
perusahaan-perusahaan lain dalam business pipelines, mulai dari suppliers
sampai kepada pelanggan juga mengutamakan arus barang antar perusahaan, sejak
paling hulu sampai paling hilir. Sedangkan manajemen logistic berorientasi pada
perencanaan dan kerangka kerja yang menghasilkan rencana tunggal arus barang
dan informasi di seluruh perusahaan, jadi lebih terfokus pada pengelolaan
termasuk arus barang dalam perusahaan.
Evolusi
SCM
Dalam
perkembangannya, Supply Chain Management telah banyak mengalami evolusi yang
dapat digambarkan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut (Indrajit dan
Djokopranoto, 2002) :
1.
Tahap 1
Dalam tahap 1 ada semacam kesendirian dan ketidak-saling
tergantungan fungsi produksi dan fungsi logistic. Mereka menjalankan
program-program sendiri yang terlepas satu sama lain (in-complete isolation).
Contohnya adalah bagian produksi yang hanya memikirkan bagaimana membuat barang
sesuai dengan mutu dan yang telah ditetapkan, dan sama sekali tidak mau ikut
memikirkan penumpukan inventory dan penggunaan ruang gudang yang menimbulkan
biaya persediaan yaitu biaya simpan.
2.
Tahap 2
Dalam tahap 2 perusahaan sudah mulai menyadari
pentingnya integrasi perencanaan walaupun dalam bidang yang masih terbatas, yaitu
di antara fungsi internal yang paling
berdekatan, misalnya produksi dengan inventory control dan functional
integration yang lain.
3.
Tahap 3
Dalam tahap 3 integrasi perencanaan dan
pengawasan atas semua fungsi yang terkait dalam satu perusahan (internal
integration).
4.
Tahap 4
Pada tahap 4 menggambarkan tahap sebenarnya
dari suplly chain integration, yaitu integrasi total dalam konsep perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan (manajemen) yang telah dicapai dalam tahap 3 dan
diteruskan ke upstreams yaitu suppliers dan downsterams sampai ke pelanggan.
Evolusi Supply Chain Management yang
telah mencapai tahap keempat tersebut menunjukkan suatu integrasi yang
menyeluruh di antara seluruh komponen terkait sehingga menuntut adanya
transparansi arus informasi. Strategi kemitraan dapat digunakan untuk
mewujudkan kelancaran arus pasokan material dari pemasok sampai distributor
hingga ke tangan konsumen. Dengan startegi kemitraan maka perlu mengembangkan
komunikasi di antara semua pihak terkait, sehingga komunikasi arus informasi
maupun data yang dibutuhkan akan lebih lancar.[2]
Kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam area SCM
apabila mengacu pada sebuah perusahaan manufaktur, kegiatan-kegiatan utama yang
masuk dalam klasifikasi SCM adalah
-
Kegiatan merancang produk baru (product development)
-
Kegiatan mendapatkan bahan baku (procurement, purchasing, atau
control)
-
Kegiatan merencanakan produksi dan
persediaan (planning &
control)
-
Kegiatan melakukan produksi (production)
-
Kegiatan melakukan pengiriman /
distribusi (distribution)
-
Kegiatan pengelolaan pengembalian produk
/ barang (return)
Keenam klasifikasi tersebut biasanya tercermin dalam bentuk
pembagian departemen atau divisi pada perusahaan manufaktur. Pembagian tersebut
sering dinamakan functional division karena mereka dikelompokkan sesuai
dengan fungsinya. Umumnya sebuah perusahaan manufaktur akan memiliki bagian
pengembangan produk, bagian pembelian atau bagian pengadaan (dalam bahasa
Inggrisnya bisa disebut purchasing, procurement, atau supply function),
bagian produksi, bagian perencanaan produksi (sering dinamakan bagian Production
Planning and Inventory Control, PPIC), dan bagian pengiriman atau ditribusi
barang jadi. Tabel berikut menguraikan lebih lanjut beberapa contoh kegiatan
yang biasanya dilakukan oleh masing-masing bagian.[3]
Bagian
|
Cakupan kegiatan antara lain
|
Pengembangan Produk
|
Melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan supplier
dalam perancangan produk baru
|
Pengadaan
|
Memilih supplier, mengevaluasi kinerja supplier, melakukan
pembelian bahan baku dan komponen, memonitor supply risk, membina dan
memelihara hubungan dengan supplier
|
Perencanaan & Pengendalian
|
Demand planning, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perencanaan
produksi dan persediaan
|
Operasi / Produksi
|
Eksekusi produksi, pengendalian kualitas
|
Pengiriman / Distribusi
|
Perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan pengiriman, mencari
dan memelihara hubungan dengan perusahaan, jasa pengiriman, memonitor service
level di tiap pusat distribusi
|
B.
Customer & Supplier Relationship Management
Pengertian
mengenai CRM telah diberikan oleh beberapa ahli, misalnya:
1.
Buttle (2007) mengemukaan bahwa CRM adalah
strategi inti dalam bisnis yang mengintregrasikan proses-proses dan
fungsi-fungsi internal dengan semua jaringan eksternal untuk menciptakan serta
mewujudkan nilai bagi para konsumen sasaran secara profitabel.
2.
Jackson (1985) menyatakan CRM merupakan
pemasaran yang diorientasikan menuju hubungan yang kuat dan lestari dengan pelanggan.
3.
Sementara itu, Payne (2000) menyatakan bahwa
CRM berkaitan dengan penciptaan, pengembangan dan peningkatan hubungan
pelanggan yang diindividualisasikan dengan pelanggan secara cermat dan
menghasilkan pemaksimalan nilai pelanggan.
4.
Sedangkan definisi yang dikemukakan oleh Kotler
dan Armstrong (2004) CRM yaitu proses membangun dan mempertahankan hubungan
dengan konsumen yang menguntungkan dengan memberikan produk yang sangat
bernilai bagi konsumen dan membuat konsumen puas.
5.
Selanjutnya menurut Schiffman (2004) menekankan
bahwa CRM adalah cara perusahaan dalam membina relasi dengan para pelanggan
dengan tujuan memelihara kesetiaan dan komitmen pelanggan untuk tetap
menggunakan produk perusahaan yang bersangkutan.
Dari
definisi yang dikemukakan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa relationship
marketing dan CRM memiliki definisi yang hampir sama, yaitu (1) berpusat
pada hubungan penjual -pelanggan (2) hubungan tersebut sifatnya jangka panjang
dan (3) kedua pihak mendapat manfaat di dalam hubungan yang dibuat (simbosis
mutualisme). Sedangkan CRM dan konsep relationship marketing bisa dianggap
sebagai budaya atau nilai organisasional yang berbeda dengan menempatkan
hubungan pembeli-penjual di pusat pemikiran strategik atau operasional
perusahaan.
Walaupun
CRM dan relationship marketing memiliki kesamaan tetapi kedua konsep
tersebut juga memiliki perbedaan-perbedaan penting. Adapun perbedaan tersebut
adalah (1) relationship marketing adalah lebih bersifat strategik
sedangkan CRM digunakan di dalam pengertian yang lebih taktis; (2) relationship
marketing adalah relatif lebih bersifat emosional dan perilaku, terpusat
pada variabel-variabel misalnya ikatan, empati, timbal balik, dan kepercayaan
sedangkan CRM lebih bersifat manajerial, difokuskan pada bagaimana manajemen
bisa membuat usaha-usaha yang padu di dalam menarik, memelihara dan
meningkatkan hubungan pelanggan; (3) relationship marketing tidak hanya sekedar
mencakup hubungan suplier-pelanggan tetapi meliputi pembangunan hubungan dengan
stakeholder, misalnya suplier, pegawai internal, pelanggan, dan bahkan
pemerintah sedangkan CRM lebih ditujukan
untuk membangun hubungan dengan para pelanggan kunci.
Dengan
mengimplementasikan CRM, dimaksudkan perusahaan menempuh cara untuk membina
relasi dengan pelanggan dengan tujuan memelihara kesetiaan dan komitmen
pelangan itu sendiri agar tetap menggunakan produk perusahaan tersebut. Dengan
menerapkan CRM pada hakekatnya perusahaan menyatakan bahwa pihaknya sudah
bersikap membangun kepuasan pada pelanggan, bersikap mengutamakan pelanggan,
berorientasi pada pelanggan, serta menyesuaikan diri dengan keinginan
pelanggan. Dalam pengimplementasian CRM ini akan menuntut terbangunnya kultur
di perusahaan, dimana kultur ini tercermin dalam perilaku yang merupakan bagian
perwujudan dari budaya perusahaan dan harus dilaksanakan dimulai dari pucuk
pimpinan sampai pegawai pada lini terbawah. Dengan terbangunnya kultur yang
berorientasi pada pelanggan tersebut, maka segala sumber daya yang ada akan
dialokasikan untuk mendukung semua langkah yang dapat meningkatkan nilai
perusahaan dimata pelanggan.[4]
Posisi pemasok dalam suatu perusahaan sangatlah penting, terutama
menyangkut pasokan produk di suatu perusahaan atau industri. Manajemen pemasok
menjadi sangat penting bagi perusahaan, terutama untuk memperoleh material atau
produk dan bahan baku berkualitas. Berbagai pendekatan teah dilakukan oleh
perusahaan. Salah satu pendekatan yang dilakukan Jepang didasari oleh adanya
hubungan kepercayaan dan saling menguntungkan (mutually cooperative)
antara pihak pemasok dan perusahaan.
The Balanced Scorecard yang diciptakan oleh Kaplan dan
Norton yang pertama kali dipublikasikan dalam Harvard Business Review
edisi Januari-Februari 1992, tidak memaparkan atau membahas perspektif pemasok.
European Foundation for Quality Management yang secara luas dinyakatan
sebagai model bisnis excellence yang dikenalkan pada tahun 1992 sebagai European
Quality Award, juga tidak mencantumkan komponen pemasok ke dalam sembilan enabler
dan dimensi hasil. Komponen pemasok juga tidak terdapat dalam kriteria kinerja excellence
pada Malcom Baldrige National Quality Award yang diciptakan pada tahun
1987, khususnya dalam membahas manajemen pemasok.
Ada 3 alasan yang mendasari mengapa pemasok harus dimasukkan dalam
rancangan permasalahan manajemen kinerja perusahaan atau organisasi. Pertama,
setiap kasus yang mengatur pemasok tidak dibahas dalam proses bisnis
internalnya. Kedua, konsep membangun hubungan baik dengan pemasok utama demi
meningkatkan efisiensi dan efektivitas melalui rantai pasok (supply chain),
yang dalam hal ini untuk menjaga efisiensi hubungan pemasok langsung, telah
menjadi tren akhir-akhir ini. Ketiga, pentingnya mengelola pemasok telah
menjadi hal yang sangat krusial untuk dibahas sejalan dengan tren strategi
kerjasama pengalihan (outsorce strategic partnership) selama dekade
terakhir.
Riset yang dilakukan oleh Cranfield dan Accenture
menunjukkan bahwa saat ini 52% perusahaan mengukur kontribusi pemasoknya,
tetapi di antara perusahaan yang belum mengukur kinerja pemasok, 83% percaya
bahwa mereka harus melakukannya. Hanya 30% responden hasil survei mengaku telah
mengukur kepuasan pemasoknya tetapi dari 30% perusahaan yang telah melakukan
pengukuran tersebut, 77% tidak percaya bahwa mereka harus mengkur kontribusi
pemasok. Jadi, dalam perusahaan yang telah melakukan pengukuran manajemen
hubungan dengan pemasok terjadi bias antara kepentingan perusahaan dan
ketertarikan perusahaan pada aspek lain seperti perbedaan harga, ketepatan
pengiriman, kualitas dan pelayanan, serta lain sebagainya. perhatian yang
diberikan pada faktor-faktor seperti apakah pemasok telah dibayar tepat waktu,
jumlah transaksi yang telah dilakukan bersama pemasok, atau benefit dari
inisiatif kerjasama yang saling menguntungkan sangatlah minim.
Dalam mengatur hubungan dengan pemasok, terdapat kecenderungan
seperti keinginan dan kebutuhan perusahaan untuk mendominasi keinginan serta
kebutuhan pemasok. Perusahaan ingin pemasoknya menyediakan produk dan jasa
dengan cepat, berkualitas, murah, dan mudah. Pemasok dan joint venture
membutuhkan umpan balik dari perusahaan atau organisasi mengenai pendapatnya
dalam bentuk opini tentang seberapa baik mereka bekerjsama, sehingga dapat
memperbaiki dan meningkatkan kerjasama tersebut. Pemasok dan joint venture
ingin dipercaya oleh pihak lain dan dapat membagi informasi penting yang saling
menguntungkan. Pemasok dan joint venture ingin agar hubungan kerja itu
memungkinkannya mendapatkan keuntungan dan mengembangkan bisnis.
Beberapa strategi generik yang umum digunakan dalam mengatur
hubungan pemasok dan partner aliansi adalah:
1.
Meningkatkan kinerja pemasok dengan membuat persetujuan pencapaian
tingkat layanan (service level), serta memonitor kinerja kualitas
produk, pelayanan pengiriman, dan penerapan akreditasi formal (proses audit).
2.
Mengoptimalkan biaya pengadaan (optimize procurement cost)
dengan menelusuri pencapaian total akuisisi cost saving melalui
inisiatif pengembangan kapabilitas seperti implementasi pelelangan via internet
manajemen persediaan penjual (vendor managed inventories), sisstem
penagihan otomatis (self-billing), atau outsourcing sebaik negosiasi
pembelian yang dilakukan secara reguler.
3.
Memapankan aliansi atau joint venture di mana permalan dan
data kebutuhan dibagi dengan pemasok melalui perubahan data secara elektronik
atau sistem perencanaan yang kolaboratif dan pendefinisian modus operandi joint
venture.
4.
Menentukan tujuan dan hasil yang diinginkan dengan mengukur kemajuan
dan pencapaian yang telah diselesaikan, apakah dapat memenuhi tujuan.
Untuk memenuhi kepuasan pemasok menyangkut kebutuhan dan keinginan,
beberapa perusahaan melakukan survei secara periodik guna mengetahui pandangan
pemasok mengenai hubungan yang sedang berlangsung dan bagaimana memperbaikinya
di masa depan. Kebutuhan dan keinginan pemasok serta partner aliansi utama sama
pentingnya dengan pemangku kepentingan utama (investor, pemerintah, masyarakat,
dan pegawai) untuk didengar daam membuat keputusan strategis. Ketika pemasok
dan partner aliansi memberikan saran perbaikan, maka dalam pelaksanaannya harus
tetap dimonitor.
Metodologi pengukuran dalam bidang manajemen rantai pasok (Supply
Chain Management) diperlukan untuk memenuhi kepuasan kedua belah pihak,
baik perusahaan atau organisasi maupun pemasok. Metodologi untuk mengatur
kinerja pemasok di antaranya adalah first point assessment, yang
dikembangkan untuk mengevaluasi kinerja pada industri petrokimia. Metodologi
ini meliputi 3 laporan yang saling terintegrasi yakni:
1.
Kinerja pemasok: melaporkan kinerja pemasok selama pengiriman
produk atau jasa kepada perusahaan atau organisasi.
2.
Kinerja produk dan pelayanan: melaporkan kinerja pelayanan yang
sedang berlangsung dari produk ke peralatan setelah beroperasi selama periode
tertentu.
3.
Kinerja pengadaan (pembeli): melaporkan bagaimana pembeli mendukung
pemasok selama persediaan produk atau jasa tersedia. Laporan ini akan mengolah
isu seperti kejelasan spesifikasi, efisiensi proses tender, efektivitas komunikasi,
dan lainnya.
Indikator kinerja perusahaan yang harus dikelola dengan baik yang
berkaitan dengan pengelolaan pemasok, antara lain meliputi:
1.
Jumlah pemasok
Dalam kebanyakan perusahaan atau organisasi, pengukuran indikator
jumlah pemasok merupakan suatu ukuran yang penting bagi perkembangan memperoleh
material atau produk dan bahan baku berkualitas. Pengurangan jumlah pemasok
dapat meningkatkan kegiatan pengawasan yang pada gilirannya dapat menjaga pasokan
produk serta layanan ke perusahaan atau organisasi sehingga menjadi lebih fokus
dan dapat mengatur masing-masing pemasok untuk bekerja lebih efektif serta
efisien. Mengurangi jumlah pemasok dapat mempermudah pasokan logistik sehingga
dapat meningkatkan nilai bisnis dengan pemasok yang ada, di mana hal itu juga
dapat meningkatkan komitmen mereka kepada perusahaan atau organisasi
bersangkutan.
2.
Pembayaran tepat waktu kepada pemasok
Kebanyakan pemasok mempertimbangkan waktu pembayaran sebagai
penentu keputusan hubungan mereka dengan perusahaan atau organisasi. Indikator
pembayaran tepat waku pada pemaasok menggambarkan usaha untuk meningkatkan
hubungan perusahaan atau organisasi dengan pemasok.
3.
Gambaran masa depan yang diberikan kepada pemasok
Gambaran masa depan meberikan infromasi kepada pemasok mengenai
jumlah atau nilai kebutuhan produk atau jasa di masa yang akan datang pada
suatu perusahaan atau organisasi. Semakin cepat pemasok diberi informasi
mengenai kebutuhan pasokan di masa depan, semakin mudah mereka memenuhinya
sehingga meningkatkan kepuasan pemasok serta mempermudah perusahaan mencapai
kesepakatan dengan pemasok.
4.
Peningkatan pesanan pemasok kepada perusahaan atau organisasi
Jumlah belanja prosuk atau jasa dan proporsi pemesanan perusahaan
kepada pemasok akan berkontribusi pada peningkatan kepuasan pemasok, dan
mengindikasikan bahwa perusahaan berkomitmen serta percaya untuk membeli dari
pemasok tersebut.
5.
Tingkat kerjasama antara pemasok dan perusahaan atau organisasi
Hal ini mengacu pada peningkatan proses bisnis yang saling
menguntungkan. Seringkali mereka bekerjasama dalam hal pengembangan produk,
perbaikan proses ataupun aktivitas pengalihan.
6.
Alternatif jumlah pemasok
Kinerja pemasok yang ddikuti oleh perusahaan dapat meningkatkan
kepuasan pemasok karena mengindikasikan komitmen perusahaan untuk membeli
produk atau jasa dari pemasok tersbeut. Oleh karena itu, pengurangan jumlah
pemasok alternatif juga mencerminkan kepuasan perusahaan terhadap pemasok yang
tetap dipertahankan tersebut. Komitmen ini sangat penting dan menjadi dasar
untuk lebih mendekatkan hubungan kerja antara perusahaan dan pemasok yang
saling menguntungkan. Meskipun demikian, hampir semua perusahaan menghindari
ketergantungan pada satu pemasok dan biasanya mengambil dua atau beberapa
pemasok.
7.
Stabilitas perencanaan atau penjadwalan
Hal ini mencerminkan akurasi perusahaan dalam memprediksikan
kebutuhan masa depannya. Pemasok hanya akan bisa merencanakan aktivitas di masa
mendatang jika sudah yakin bahwa jadwal yang dibuat akurat. Karenanya,
diperlukan pembuatan jadwal yang akurat agar pemasok dapat lebih efektif
merencakan peningkatan efektivitas dan efisiensi operasinya.
8.
Stabilitas hubungan antara pemasok dan perusahaan
Stabilitas hubungan antara pemasok dan perusahaan mencerminkan
pengembangan hubungan jangka panjang yang erat. Hubungan yang stabil di antara
keduanya akan meningkatkan kepastian perencanaan yang akan dibuat.
9.
Kepuasan pemasok
Jika menginginkan peningkatan hubungan jangka panjang yang erat
antara pemasok dan perusahaan, kepuasan pemasok harus ditingkatkan.
Meningkatnya kepuasan pemasok akan meningkatkan kesediaan mereka dalam emmenuhi
kebutuhan perusahaan dan dapat pula meningkatkan kinerjanya. Peningkatan
kepuasan pemasok akan mendorong mereka untuk menyetujui kontrak jangka panjang
yang saling menguntungkan.[5]
C.
Customer Service Management
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kepercayaan pelanggan, setiap
perusahaan perlu menjaga citra positif produk dan perusahaan di mata pelanggan
atau masyarakat umumnya. Citra ini dapat dibangun melalui kualitas produk,
kualitas pelayanan, dan jaminan keamanan. Tanpa citra yang positif, kepercayaan
yang sedang dan akan dibangun tidak akan efektif. Untuk meningkatkan citra
perusahaan, wirausahawan perlu menyiapkan sumber daya manusia (karyawan) yang
mampu menangani keinginan dan kebutuhan pelanggan. Karyawan yang diharapkan
dapat melayani keinginan dan kebutuhan pelanggan ini kita sebut Customer
service (CS) atau ada juga yang menyebutnya service assistence (SA).
Customer service secara umum adalah setiap kegiatan yang ditujukan untuk memberikan
kepuasan pelanggan melalui pelayanan yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan
pelanggan. Customer service memegang peranan sangat penting sebagai
ujung tombak perusahaan dalam menghadapi pelanggan. Dalam dunia bisnis tugas
utama seorang CS memberikan pelayanan dan membina hubungan dengan masyarakat. Customer
service perusahaan dalam melayani para pelanggannya selalu berusaha menarik
dengan cara merayu para calon pelanggan menjadi pelanggan yang bersangkut
dengan berbagai cara. CS juga harus dapat menjaga pelanggan lama agar tetap
menjadi pelanggan perusahaan. Oleh karena itu, tugas Customer service merupakan
tulang punggung kegiatan operasional dalam dunia bisnis.
Pada prinsipnya semua atau seluruh pegawai, mulai dari cleaning
service, satpam, sampai pada direktur utama harus harus menjadi costumer
service. Dalam menjalan kan fungsi dan tugasnya, seseorang costumer service
harus benar-benar memahaminya sehingga dapat menjalankan tugasnya secara prima.
Fungsi customer service yang
harus dijalankan setiap waktu adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai resepsionis
Sebagai resepsionis, CS berfungsi sebagai penerima tanu yang datang
ke perusahaan. Tamu di sini bisa siapa saja, entah pelanggan, calon
pelanggan,supplier, atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan.
2.
Sebagai Deskman
Seorang CS berfungsi sebagai orang yang melayani berbagai macam
aplikasi (permohonan) yang diajukan pelanggan atau calon pelanggan. Permohonan
mulai dari pengisian formulir samapai dengan kelengkapan data yang dibutuhkan
atau yang dipersyaratkan.
3.
Sebagai Salesman
Sebagai salesman, CS merupakan seorang yang menjual produk kepada
pelanggan atau calon pelanggan. Dalam hal ini CS harus dapat menjelaskan segala
sesuatu yang berkaitan dengan produk.
4.
Sebagai Customer Relation Officer
Sebagai customer relation officer, CS berfungsi sebagai orang yang
membina hubungan baik dengan seluruh pelanggan, termasuk merayu atau membujuk
agar pelanggan tetap bertahan, tidak lari dari perusahaan yang bersangkutan
apabila menghadapi masalah.
5.
Sebagai Komunikator
Sebagai komunikator, CS merupakan penghubung antara perusahaan
dengan pelanggan atau pihak lain yang berkepentingan terhadap perusahaan. Dalam
hal ini fungsi CS adalah menghubungi pelanggan dan memberikan informasi tentang
segala sesuatu yang ada hubungannya antara perusahaan dan pelanggan.
Disamping memiliki fungsi seperti di atas, CS juga memiliki tugas
sesuai dengan fungsi CS tersebut. Adapun tugas-tugas Customer service yang
sesuai dengan fungsinya adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai Resepsionis
Sebagai resepsionis CS bertugas menerima tamu yang datang ke
perusahaan dengan ramah-ramah, sopan, tenang, simpatik, menarik, dan menyenangkan.
Dalam hal ini CS harus bersikap selalu memberi perhatian, berbicara dengan
suara yang lembut dan jelas.
2.
Sebagai Deskman
Sebagai deskman tugas CS antara lain memberikan informasi mengenai produk-produk
perusahaan, menjelaskan manfaat dan ciri-ciri produk, menjawab pertanyaan
pelanggan mengenai produk serta membantu pelanggan yang membutuhkan
pertolongan, seperti mengisi formulir.
3.
Sebagai Salesman
Sebagai salesman tugas CS adalah menjual produk, merupakan cross selling, mengadakan
pendekatan dan mencari pelanggan baru, berusaha membujuk pelanggan yang baru
dan berusaha mempertahankan pelanggan yang lama, serta berusaha mengatasi
setiap permasalahn yang dihadapi pelanggan, termasuk keberatan dan keluhan
pelanggan.
4.
Sebagai Customer Relation Officer
Sebagai Customer Relation Officer tugas seorang CS adalah menjaga
image atau citra perusahaan. Tugas detailnya adalah membina hubungan baik
dengan seluruh pelanggan. Tugas terpenting adalah sebagai penghubung antara
perusahaan dengan seluruh pelanggan,
5.
Sebagai komunikator
Sebagai komunikator tugas CS adalah memberikan segala informasi dan
kemudahan-kemudahan kepada pelanggan. Di samping itu, juga sebagai tempat
menampung keluhan, keberatan, atau konsultasi berbagai hal yang ada kaitannya
dengan produk atau perusahaan secara keseluruhan.[6]
D.
Demand Management
Demand management adalah upaya untuk membuat permintaan lebih mudah
dipenuhi oleh supply chain. Secara lebih spesifik bisa dikatakan bahwa demand
management adalah upaya untuk secara aktif meyakinkan bahwa profil perrmintaan
pelanggan memiliki pola yang halus sehingga mudah dan efisien untuk dipenuhi.
Dengan kata lain, kalau peramalan hanya melihat bahwa input yang sudah ‘given’,
demand management melihat bahwa input tersebut harus diubah polanya terlebih
dahulu sebelum masuk ke proses peramalan, perencanaan produksi, pengadaan bahan
baku, produksi, dan pengiriman ke pelanggan.
Mengelola permintaan berarti mengubah pola permintaan sehingga
memiliki pola yang lebih menguntungkan bagi supply chain. Ada beberapa cara
yang bisa digunakan oleh supply chain untuk mempengaruhi pola permintaan, cara-cara
berikut ini hanya kan efektif digunakan apabila perusahaan memahami dengan baik
perilaku pembeli / pelanggan terhadap pemberlakuan masing-masing cara ini. Cara-cara
tersebut antara lain:
a.
Promosi
Kegiatan promosi bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya
melalui iklan di media cetak maupun media elektronik. Kegiatan promosi sudah
teruji efektivitasnya untuk meningkatkan volume penjualan selama periode
tertentu. Promosi pada saat-saat tertentu membuat volume permintaan meningkat
baik segera setelah promosi dilakukan ataupun secara perlahan dan terjadi
beberapa lama setelah periode promosi mulai. Bagi supply chain, kegiatan
promosi bisa membuat pola permintaan lebih mudah atau lebih sulit untuk dipenuhi.
Jika promosi dilakukan pada saat-saat permintaan lesu dan efek
promosi relatif cepat terhadap reaksi pasar, maka supply chain akan mendapatkan
pola permintaan yang lebih rata. Sebaliknya, jika promosi justru dilakukan pada
saat permintaan memang tinggi, supply chain justru akan menghadapi permintaan
yang lebih fluktuatif. Sebagai contoh, penjualan kartu ucapan natal dan tahu
baru akan tinggi pada minggu ke-2 atau ke-3 bulan Desember. Jika promosi
dilakukan oleh suatu perusahaan pada bulan Desember, justru permintaan akan
meningkat pada bulan tersbeut sehingga perbedaan penjualan pada bulan Desember
dan bulan-bulan lain justru akan lebih tinggi. sebaliknya, jika promosi
dilakukan pada bulan Agustus, September, Oktober misalnya, volume penjualan
pada bulan-bulan tersebut akan meningkat baik karena sebagian orang membeli
kartu ucapan dua bulan atau tiga bulan lebih awal. Kalau ini yang terjadi,
pemrintaan kartu secara total akan meningkat pada bulan-bulan sebelum Desember
dan kemungkinan menurun pada bulan Desember..
b.
Pricing
Kebijakan harga sebenarnya juga bisa diklasifikasikan sebagai
bagian dari instrumen promosi. Namun, kebijakan pricing bisa memiliki tujuan
yang lebih luas dari sekedar promosi. Comtohnya, tarif telepon yang lebih mahal
di siang hari dibandingkan dengan waktu malam hari adalah cara untuk
memindahkan sebagian beban jaringan yang memang sibuk pada siang hari ke malam
hari. Potongan harga yang diberikan untuk produk-produk yang tidak terjual pada
akhir musim jual (seperti pakaian, produk-produk elektronik, dan lain-lain)
menyebabkan biaya-biaya persediaan menurun, namun terkadang juga membuat orang
menunda keputusan pembelian ke akhir musim jual untuk mendapatkan diskon yang
berarti mennimbulkan dampak negatif bagi supply chain.
c.
Shelf management
Posisi dan cara penempatan suatu barang di supermarket sering kali
berpengaruh terhadap penjualan barang tersebut. Barang yang letaknya
tersembunyi, walaupun sebenarnya menarik bagi banyak konsumen, tidak akan
banyak laku karena tidak terlihat oleh calon-calon pembeli. Oleh karena itu,
produk yang baru diluncurkan atau yang sedang punya program peningkatan
penjualan, biasanya ditempatkan di tempat-tempat yang terlihat jelas oleh para
pengunjungnya.
d.
Deal structure
Deal structure ini meliputi persetujuan jual beli seperti boleh
tidaknya produk dikembalikan, term pembayaran, perlindungan harga, garansi, dan
sebagainya. bisa tidaknya produk dikembalikan apabila tidak sesuai dengan
keinginan konsumen akan meningkatkan volume penjuala, namun penjual akan
menanggung biaya pengembalian yang lebih tinggi. Term pembayaran juga
mempengaruhi keputusan pembeli. Pembayaran yang bisa ditunda beberapa lama
setelah barang diambil tentu akan lebih manerik dibandingkan dengan persyaratan
pembayaran langsung ketika barang diambil oleh pembeli.[7]
E.
Pengembangan Produk dan Komersialisasi
Kebanyakan organisasi bisnis yang berhasil mencapai tujuannya
karena mereka selalu berusaha untuk memberikan produk atau jasa yang ditawarkan
sesuai dengan keinginan pelanggan. Pengembangan produk (product develompent)
pada dasarnya adalah upaya perusahaan untuk senantiasa menciptakan produk baru,
memperbaiki atau memodifikasi produk lama agar dapat memenuhi tuntutan pasar
dan selera pelanggan. Toffler memprediksi bahwa akan terjadi peningkatan
macam produk untuk barang jenis tertentu. Dari hari ke hari diprediksikan jenis
produk akan meningkat, konsumen akan banyak pilihan dan akan cepat bosan dengan
produk karena banyaknya bermunculan produk-produk baru. Oleh karena itu,
diperlukan kejelian dan kejeniusan dalam memenuhi pelanggan dengan melakukan
pengembangan produk.
Perusahaan yang melakukan stategi bisnis product differentation
menuntut inovasi produk untuk dapat menciptakan dan mengembangkan produk sesuai
dengan permintaan pasar. Inovasi produk akan muncul apabila perusahaan mempunyai
misi operasi sesuai dengan permintaan pasar. Keputusan yang diambil selama
tahap pengembangan produk akan berpengaruh pada keseluruhan organisasi dalam
jangka panjang. Tanpa pengembangan produk dapat menimbulkan ketidakpuasan
pelanggan dan pada akhirnya dapat berakibat penurunan penjualan.
Pengembangan produk tidak dapat dipisahkan dari konsep daur hidup
produk (product life cycle). Produk yang baik dapat dikatakan selalu
melalui tahapan perancangan, produksi, diterjunkan ke pasar dan kemudian
melewati tahap siklus daur hidup mulai dari perkenalan, pertumbuhan,
kematangan, kejenuhan, lalu akhirnya merosot dan mati untuk digantikan oleh
produk-produk baru sebagai hasil pengembangan yang lebih dapat memuaskan
kebutuhan pelanggan. Dalam era sekarang ini terdapat beberapa kecenderungan
yang mungkin terjadi di bidang pengembangan produk, yaitu:
1.
Proses pengembangan produk yang lebih baik, lebih canggih, lebih
berkualitas, lebih murah dibandingkan dengan produk sebelumnya sebagai akibat
perubahan yang begitu cepat dalam bidang teknologi.
2.
Pengembangan produk dalam era sekarang ini dituntut untuk menjadi
unggulan daya saing.
Terdapat beberapa faktor yang mendorong perusahaan perlu melakukan
strategi pengembangan produk dalam menghadapi era globalisasi, yakni:
a.
Perubahan selera konsumen
b.
Keinginan untuk menekan biaya (efisiensi)
c.
Keinginan untuk meningkatkan kualitas produk
d.
Kemerosotan kinerja perusahaan (menurunnya omzet penjualan dan
pasaran produk kurang berkembang)
e.
Melemahnya bargaining position dalam menghadapi para
supplier bahan baku
f.
Pesaing semakin kuat
g.
Perubahan teknologi
h.
Usia produk semakin pendek
Dalam menyusun strategi pengembangan produk saaai ini, produsen
dihadapkan pada berbagai tantangan antara lain seperti:
1.
Makin terbatasnya gagasan-gagasan tentang produk baru karena
cepatnya perubahan tuntutan pasar tidak dapat selalu diimbangi dengan munculnya
gagasan-gagasan produk baru.
2.
Pasar yang semakin terkotak-kotak (fregmentation markets)
karena persaingan semakin tajam sehingga mengakibatkan pasar semakin sempit.
Perusahaan umumnya hanya mampu mengarahkan produk barunya untuk segmen pasar
tertentu.
3.
Hambatan sosial dan peraturan pemerintah karena produk baru
dituntut untuk lebih memenuhi persyaratan keamanan konsumen dan pencemaran
lingkungan hidup.
4.
Biaya pengembangan produk yang mungkin semakin tinggi.
5.
Usia produk yang semakin singkat karena biasanya apabila suatu
produk sukses di pasar, pasar pesaing berlomba-lomba meniru dan menawarkan
harga yang lebih murah, sehingga rata-rata produk baru yang sukses hanya dapat
menikmati masa puncak yang relatif singkat.
Di samping tantangan tersebut, pengembangan produk baru masih
dibayangi oleh risiko kegagalan tidak hanya ketika produksi tapi ketika produk
dikenalkan ke pasar. Kegagalan sebagian besar produk baru disebabkan antara
lain oleh keinginan yang dipaksakan, kurangnya penelitian pasar, kekeliruan
dalam memprediksi daya serap pasar, kurangnya promosi, harga terlalu tinggi,
atau bahka disebabkan oleh ulah para pesaing yang melakukan praktek ilegal
dengan melakukan imitasi produk. Untuk mengatasi tantangan tersebut serta
mencegah kenmungkinan terjadinya kegagalan strategi pengembangan produk baru
harus diruuskan sejalan dengan strategi pemasaran perusahaan jangka panjang dan
bukan keputusan yang mendadak.
Dalam menetapkan stategi pengembangan produk, terdapat empat macam
pendekatan yang dapat ditempuh, yaitu:
1.
Modifikasi bauran produk dalam satu lini
2.
Perluasan lini atau pertambahan lini
3.
Meningkatkan citra dan manfaat produk, misalnya dengan menerbitkan
buku resep seingga manfaat produk bertambah bagi konsumen
4.
Menciptakan produk baru atau produk sekelas konsumen lain, misalnya
setingkat lebih rendah atau setingkat lebih tinggi.
Secara garis besar, prosedur pengembangan produk terdiri atas
tahapan sebagai berikut:
1.
Pengembangan gagasan
2.
Penyaringan gagasan agar benar-benar dapat diwujudkan.
3.
Pengembangan dan uji konsep.
4.
Analisis bisnis
5.
Pengembangan dan uji produk
6.
Strategi pemasaran produk
7.
Uji pasar
8.
Pengenalan pasar[8]
Setelah pengujian selesai dilakukan, perusahaan siap untuk
memperkenalkan produk ke pasar target secara penuh dan sesuai dengan langkan
pengenalan siklus hidup induk. Oleh karena itu, setelah perencanaan matang,
dilaksanakan, dan diuji maka akhirnya dibuat produksi besar-besaran yang
membutuhkan modal investasi cukup besar. Maka perusahaan mulai melansir produk
baru di pasar, yang akan menjalani proses kehidupan sebagai suatu produk baru
sampai kepada tahap proses adopsi oleh pihak konsumen, dapat menimbulkan
kepuasan bagi konsumen, dan mendatangkan keuntungan bagi produsen. Tahap ini
merupakan tahap komersialisasi.[9]
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di
atas, dapat diketahui bahwa SCM merupakan singkatan dari Supply
Chain Management yakni metode, alat, atau pendekatan pengelolaan
dari supply chain. Supply chain sendiri merupakan jaringan
perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan
menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.
Lalu, dalam SCM terdapat pula CRM (Customer
Relationship Management) dan Supplier Relationship Management. Yang
mana, dengan mengimplementasikan CRM, dimaksudkan perusahaan menempuh cara
untuk membina relasi dengan pelanggan dengan tujuan memelihara kesetiaan dan komitmen
pelangan itu sendiri agar tetap menggunakan produk perusahaan tersebut.
Manajemen pemasok menjadi sangat penting bagi perusahaan, terutama untuk
memperoleh material atau produk dan bahan baku berkualitas.
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kepercayaan
pelanggan, setiap perusahaan perlu menjaga citra positif produk dan perusahaan
di mata pelanggan atau masyarakat umumnya. Untuk meningkatkan citra perusahaan,
wirausahawan perlu menyiapkan sumber daya manusia (karyawan) yang mampu
menangani keinginan dan kebutuhan pelanggan. Karyawan yang diharapkan dapat
melayani keinginan dan kebutuhan pelanggan ini kita sebut Customer service (CS).
Demand management adalah upaya untuk membuat
permintaan lebih mudah dipenuhi oleh supply chain. Selain itu, ebanyakan
organisasi bisnis yang berhasil mencapai tujuannya karena mereka selalu
berusaha untuk memberikan produk atau jasa yang ditawarkan sesuai dengan
keinginan pelanggan. Pengembangan produk (product develompent) pada
dasarnya adalah upaya perusahaan untuk senantiasa menciptakan produk baru,
memperbaiki atau memodifikasi produk lama agar dapat memenuhi tuntutan pasar
dan selera pelanggan.
Daftar Pustaka
Alma,
Buchari. 2014. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung:
Alfabeta.
Kasmir.
2008. Kewirausahaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pujawan,
I Nyoman dan Mahendrawati. 2010. Supply Chain Management. Surabaya: Guna
Widya.
Wibisono,
Dermawan. 2011. Manajemen Kinerja Korporasi dan Organisasi: Panduan
Penyusunan Indikator. Jakarta: Erlangga.
Yamit,
Zulian. 2003. Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta: Ekonisia.
Widyarto,
Agus. “Peran Supply Chain Management Dalam Sistem Produksi
dan Operasi Perusahaan”, Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol. 16, No. 2 Desember
2012, publikasiilmiah.ums.co.id (4
November 2016)
Chadhiq, Umar. “Customer Relationship Management (CRM): Pilihan Strategi Untuk Meraih Keunggulan
Bersaing”, Jurnal
Vol. 18
No. 33 2011 ejurnal.stiedharmaputra-smg.ac.id
(4 November 2016)
[1] I Nyoman Pujawan dan Mahendrawati, Supply Chain Management
(Surabaya: Guna Widya, 2010), 7-8.
[2] Agus Widyarto, “Peran Supply Chain Management Dalam Sistem
Produksi dan Operasi Perusahaan”, Jurnal Manajemen dan Bisnis Vol. 16, No. 2
Desember 2012, publikasiilmiah.ums.ac.id (4
November 2016)
[3] Pujawan dan Mahendrawati, Supply Chain Management, 9-10.
[4] Umar Chadhiq, “Customer
Relationship Management (CRM) : Pilihan Strategi Untuk Meraih
Keunggulan Bersaing”, Jurnal Vol. 18 No. 33 2011, ejurnal.stiedharmaputra-smg.ac.id
(4 November 2016)
[5] Dermawan Wibisono, Manajemen Kinerja Korporasi dan Organisasi:
Panduan Penyusunan Indikator (Jakarta: Erlangga, 2011), 84-100.
[6] Kasmir, Kewirausahaan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2008), 275
[7] Pujawan dan Mahendrawati, Supply Chain Management, 96-98.
[8] Zulian Yamit, Manajemen Produksi dan Operasi (Yogyakarta:
Ekonisia, 2003), 34-40.
[9] Buchari Alma, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (Bandung:
Alfabeta, 2014), 142.
No comments:
Post a Comment