Saturday, February 3, 2018

lean six sigma metode dmaic - TEKNIK INDUSTRI

teknikindustriblog.blogspot.com

          SIX SIGMA
Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Motorolla merupakan salah satu dari banyak korporat AS dan Eropa dimana produk yang mereka luncurkan selalu kalah oleh para pesaing Jepang. Para pemimpin Motorolla mengakui bahwa kualitas produknya “mengerikan” (Pande et al., 2003). Seperti banyak perusahaan saat itu, Motorolla tidak mempunyai sebuah program kualitas, tetapi sejak 1987, keluar sebuah pendekatan baru dari sektor komunikasi Motorolla yang disebut Six Sigma- pada saat itu dikepalai George Fisher, yang kemudian menjadi Top Executive di Kodak. Dengan dukungan kuat dari chairman Motorolla, Bob Galvin- Six Sigmamemberikan otot ekstra kepada Motorolla untuk mencapai tujuan-tujuan yang pada saat itu sepertinya tidak mungkin: target awal pada awal tahun 1980-an adalah sebesar sepuluh kali peningkatan pada lima tahun, diperkecil menjadi tujuan sepuluh kali peningkatan setiap dua tahun, atau 100 kali dalam empat tahun. Meskipun sasaran Six Sigma penting, tetapi perhatian lebih banyak diberikan kepada rata-ratapeningkatan dalam proses dan produk (S.T, Miranda, 2002:16).

Siklus Dmaic (Define, Measure, Analyze, Improve, Control)
(Wahyani, Chobir, & Rahmanto, 2010) Six Sigma menggunakan alat statistik untuk mengidentifikasi beberapa faktor vital, Siklus DMAIC merupakan proses kunci untuk peningkatan secara kontinyu menuju target Six Sigma. DMAIC dilakukan secara sistematik berdasarkan ilmu pengetahuan dan fakta (systematic, scientific, and fact based). Berikut ini adalah tahapan dalam siklus DMAIC dan langkah-langkah yang harus dilaksanakan pada setiap tahap:

a.      Define (D)
Tahap Define merupakan langkah operasional pertama dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Dalam tahap Define dilakukan identifikasi proyek yang potensial, mendefinisikan peran orang-orang yang terlibat dalam proyek Six Siqma, mengidentifikasi karakteristik kualitas kunci (CTQ) yang berhubungan langsung dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan dan menentukan tujuan.

b.      Measure (M)
Measure merupakan langkah operasional kedua dalam program peningkatan kualitas Six Sigma, terdapat beberapa hal pokok yang harus dilakukan yaitu:
1.      Melakukan dan mengembangkan rencana pengumpulan data yang dapat dilakukan pada tingkat proses, dan/atau output.
2.      Mengukur kinerja sekarang (current performance) untuk ditetapkan sebagai baseline kinerja pada awal proyek Six Sigma.

c.       Analyze (A)
Merupakan langkah operasional ketiga dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Sebenarnya target dari program Six Sigma adalah membawa proses industri pada kondisi yang memiliki stabilitas (stability) dan kemampuan (capability), sehingga mencapai tingkat kegagalan nol (zero defect oriented).

d.      Improve ( I )
Setelah sumber-sumber dan akar penyebab permasalahan kualitas teridentifikasi, maka perlu dilakukan penentapan rencana tindakan (action plan) untuk melaksanakan peningkatan kualitas Six Siqma, yaitu dengan tools: Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang mendiskripsikan tentang alokasi sumber-sumber daya serta prioritas dan atau alternatif yang dilakukan dalam implementasi dari rencana itu.

e.       Control ( C )
Merupakan tahap operasional terakhir dalam proyek peningkatan kualitas Six Sigma. Pada tahap ini prosedur-prosedur serta hasil-hasil peningkatan kualitas didokumentasikan untuk dijadikan pedoman kerja standart guna mencegah masalah yang sama atau praktek-praktek lama terulang kembali, kemudian kepemilikan atau tanggung jawab ditransfer dari tim Six Sigma kepada penanggung jawab proses, dan ini berarti proyek Six Sigma berakhir pada tahap ini.









No comments:

Post a Comment

Statistical Quality Control - TEKNIK INDUSTRI

Statistik adalah seni pengambilan keputusan tentang suatu proses atau populasi berdasarkan pada suatu analisis informasi yang terkand...