SIX SIGMA
Pada tahun 1980-an dan 1990-an,
Motorolla merupakan salah satu dari banyak korporat AS dan Eropa dimana produk
yang mereka luncurkan selalu kalah oleh para pesaing Jepang. Para pemimpin
Motorolla mengakui bahwa kualitas produknya “mengerikan” (Pande et al., 2003).
Seperti banyak perusahaan saat itu, Motorolla tidak mempunyai sebuah program
kualitas, tetapi sejak 1987, keluar sebuah pendekatan baru dari sektor komunikasi
Motorolla yang disebut Six Sigma- pada saat itu dikepalai George Fisher, yang
kemudian menjadi Top Executive di Kodak. Dengan dukungan kuat dari chairman
Motorolla, Bob Galvin- Six Sigmamemberikan otot ekstra kepada Motorolla untuk mencapai
tujuan-tujuan yang pada saat itu sepertinya tidak mungkin: target awal pada
awal tahun 1980-an adalah sebesar sepuluh kali peningkatan pada lima tahun, diperkecil
menjadi tujuan sepuluh kali peningkatan setiap dua tahun, atau 100 kali dalam
empat tahun. Meskipun sasaran Six Sigma penting, tetapi perhatian lebih banyak
diberikan kepada rata-ratapeningkatan dalam proses dan produk (S.T, Miranda,
2002:16).
Siklus
Dmaic (Define, Measure, Analyze, Improve, Control)
(Wahyani,
Chobir, & Rahmanto, 2010) Six Sigma menggunakan alat statistik untuk
mengidentifikasi beberapa faktor vital, Siklus DMAIC merupakan proses kunci
untuk peningkatan secara kontinyu menuju target Six Sigma. DMAIC dilakukan secara
sistematik berdasarkan ilmu pengetahuan dan fakta (systematic, scientific, and
fact based). Berikut ini adalah tahapan dalam siklus DMAIC dan langkah-langkah
yang harus dilaksanakan pada setiap tahap:
a.
Define (D)
Tahap Define merupakan langkah operasional
pertama dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Dalam tahap Define
dilakukan identifikasi proyek yang potensial, mendefinisikan peran orang-orang
yang terlibat dalam proyek Six Siqma, mengidentifikasi karakteristik kualitas
kunci (CTQ) yang berhubungan langsung dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan
dan menentukan tujuan.
b. Measure
(M)
Measure
merupakan langkah operasional kedua dalam program peningkatan kualitas Six
Sigma, terdapat beberapa hal pokok yang harus dilakukan yaitu:
1. Melakukan
dan mengembangkan rencana pengumpulan data yang dapat dilakukan pada tingkat
proses, dan/atau output.
2. Mengukur
kinerja sekarang (current performance) untuk ditetapkan sebagai baseline
kinerja pada awal proyek Six Sigma.
c.
Analyze (A)
Merupakan
langkah operasional ketiga dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Sebenarnya
target dari program Six Sigma adalah membawa proses industri pada
kondisi yang memiliki stabilitas (stability) dan kemampuan (capability),
sehingga mencapai tingkat kegagalan nol (zero defect oriented).
d.
Improve ( I )
Setelah
sumber-sumber dan akar penyebab permasalahan kualitas teridentifikasi, maka
perlu dilakukan penentapan rencana tindakan (action plan) untuk
melaksanakan peningkatan kualitas Six Siqma, yaitu dengan tools: Failure
Mode and Effect Analysis (FMEA) yang mendiskripsikan tentang alokasi
sumber-sumber daya serta prioritas dan atau alternatif yang dilakukan dalam
implementasi dari rencana itu.
e.
Control
( C )
Merupakan
tahap operasional terakhir dalam proyek peningkatan kualitas Six Sigma. Pada
tahap ini prosedur-prosedur serta hasil-hasil peningkatan kualitas
didokumentasikan untuk dijadikan pedoman kerja standart guna mencegah masalah
yang sama atau praktek-praktek lama terulang kembali, kemudian kepemilikan atau
tanggung jawab ditransfer dari tim Six Sigma kepada penanggung jawab proses,
dan ini berarti proyek Six Sigma berakhir pada tahap ini.
No comments:
Post a Comment